Nasional

Modernitas Tanpa Sikap Kritis, Pakar Ingatkan Bahaya Pola Pikir Instan

Senin, 16 Februari 2026 | 16:00 WIB

Modernitas Tanpa Sikap Kritis, Pakar Ingatkan Bahaya Pola Pikir Instan

Guru Besar Filsafat dari Universitas Katolik Parahyangan, Bambang Sugiharto. (Foto: dok NU Online)

Jakarta, NU Online

Guru Besar Filsafat dari Universitas Katolik Parahyangan, Bambang Sugiharto, menyoroti kecenderungan modernitas masyarakat Indonesia yang dinilainya masih bersifat konsumtif. Ia menegaskan bahwa modernitas tidak cukup dimaknai sebatas penggunaan teknologi, fesyen, dan perangkat digital.


Hal tersebut disampaikannya dalam tayangan Menjadi Indonesia ke-37 bertema Postmodernisme dan Masa Depan Indonesia. Menurut Bambang, modernitas semestinya tercermin dalam sikap, mentalitas, dan cara berpikir yang matang.


“Celakanya, dalam kerangka modernitasnya, kita belum modern dalam arti sikap, mental, dan cara berpikir,” ujarnya.


Bambang menjelaskan, kemampuan berpikir yang perlu diasah adalah kecakapan memilah mana yang penting dan tidak penting, serta mempertimbangkan persoalan secara mendalam. Ia menekankan pentingnya refleksi diri dalam setiap pengambilan sikap dan keputusan.


Menurutnya, lemahnya daya refleksi tampak dalam fenomena penggunaan media sosial yang cenderung serampangan, seperti memberi komentar tanpa kerangka berpikir kritis.


“Berpikir yang sesungguhnya adalah yang filosofis, dalam arti reflektif. Berani mempertanyakan keyakinan dan asumsi-asumsi kita sendiri,” katanya.


Ia menambahkan, filsafat tetap relevan karena puncak berpikir kritis adalah kemampuan mempertanyakan diri sendiri.


Relevansi Negara di Era Global

Selain membahas modernitas, Bambang juga menyinggung relevansi keberadaan negara di tengah arus globalisasi. Ia mengibaratkan negara seperti organisasi yang membutuhkan aturan dan manajemen.


“Kita masih membutuhkan nation itu meskipun aktivitas kita nyaris tidak bisa dibatasi lagi pada level nation,” ujarnya.


Ia mengutip pemikiran Kenichi Omae, penulis buku The End of the Nation State, yang menyatakan bahwa banyak interaksi manusia kini bersifat global. Namun demikian, menurut Bambang, negara-bangsa tetap dibutuhkan secara pragmatis, terutama dalam pengelolaan masyarakat dan pemeliharaan memori kolektif.


Di tengah situasi yang dinilainya semakin kompleks, Bambang menyebut cara berpikir utilitarian kerap dianggap paling rasional. Namun, ia mengingatkan pentingnya menetapkan standar dan patokan secara mandiri melalui pemikiran kritis.


“Kita harus membuat standar-standar kita sendiri. Karena itu, pemikiran kritis menjadi syarat mutlak untuk menghadapi masa depan,” tegasnya.