Musim Kemarau Bukan Sekadar Panas, Waspadai Risiko Penyakit yang Mengintai
Rabu, 5 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Jakarta, NU Online
Musim kemarau identik dengan cuaca panas dan minimnya curah hujan. Di balik kondisi tersebut, berbagai risiko kesehatan mengintai masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis.
Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PP PDNU) Muhammad S. Niam mengungkapkan bahwa masyarakat perlu memahami risiko penyakit yang mengintai selama musim kemarau.
“Ada beberapa kelompok gangguan kesehatan yang perlu kita waspadai,” ujarnya kepada NU Online pada Selasa (4/8/2026).
Niam menjelaskan, pertama adalah penyakit kardiovaskular dan gangguan ginjal yang dapat memburuk akibat tubuh mengalami kehilangan cairan dan tekanan pada sistem sirkulasi.
“Pertama, penyakit kardiovaskular dan ginjal dapat memburuk karena tubuh mengalami tekanan sirkulasi dan kehilangan cairan. Risiko ini lebih besar pada lansia serta orang yang sudah mempunyai penyakit kronis,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga perlu mewaspadai berbagai penyakit akibat paparan panas yang berlebihan.
“Kedua, penyakit akibat panas, seperti kram panas, kelelahan akibat panas, dehidrasi, sampai heatstroke,” imbuhnya.
Ancaman lainnya adalah meningkatnya gangguan pernapasan atau infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Niam menyampaikan bahwa kondisi tersebut dapat terjadi ketika kualitas udara memburuk akibat tingginya partikulat atau kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan.
“Gangguan pernapasan dapat meningkat ketika kualitas udara memburuk, terutama apabila terjadi peningkatan partikulat atau kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Niam juga mengingatkan adanya risiko penyakit yang berkaitan dengan sanitasi, kualitas air, makanan, dan perubahan lingkungan selama musim kemarau.
Lebih jauh, dia menekankan bahwa risiko kesehatan pada musim kemarau tidak hanya dipengaruhi oleh suhu udara.
“Jadi faktor yang paling penting bukan hanya temperatur. Kita harus melihat kombinasi suhu, kelembapan, lamanya paparan, aktivitas fisik, kecukupan cairan, kualitas udara, kondisi lingkungan, usia, serta penyakit yang sudah dimiliki seseorang,” tegasnya.
Untuk mencegah dampak kesehatan yang lebih berat, Niam mengimbau masyarakat mengenali tanda-tanda awal gangguan akibat panas.
“Pertama, kenali tanda-tanda awal heat illness seperti kram, keringat berlebihan, sakit kepala, pusing, lemah, mual, atau sesak. Jangan memaksakan diri ketika gejala tersebut muncul,” katanya.
Dia mengingatkan agar masyarakat memperhatikan kualitas udara. “Bila kualitas udara sedang buruk, terutama karena PM2.5 atau asap kebakaran, kurangi aktivitas berat di luar ruangan dan gunakan perlindungan pernapasan yang sesuai,” ucapnya.
Niam menegaskan bahwa perhatian khusus perlu diberikan kepada bayi dan anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, atlet, serta pasien dengan penyakit jantung, paru, ginjal, diabetes, dan penyakit kronis lainnya.
“Mari kita hadapi musim kemarau dengan prinsip mencegah lebih baik daripada mengobati: cukup minum, cukup istirahat, kurangi paparan panas, jaga kualitas lingkungan, dan saling menjaga anggota keluarga maupun tetangga yang rentan,” pungkasnya.