Nasional

Mustasyar PBNU AS Hikam Tekankan Modernisasi Tata Kelola dan Pendekatan Kebangsaan bagi Gen Z

Ahad, 25 Oktober 2026 | 10:00 WIB

Mustasyar PBNU AS Hikam Tekankan Modernisasi Tata Kelola dan Pendekatan Kebangsaan bagi Gen Z

Mustasyar PBNU Muhammad AS Hikam diwawancarai NU Online usai Rakor PBNU di Depok, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026) malam. (NU Online/Suwitno)

Depok, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad A. S. Hikam menekankan pentingnya penguatan tata kelola organisasi agar NU mampu menjawab tantangan zaman. Selain menerapkan manajemen modern dan target yang terukur, NU juga perlu menyesuaikan pendekatan kebangsaan dengan karakter generasi Z yang tumbuh bersama teknologi digital.

 

Hikam mengatakan, modernisasi tata kelola menjadi kebutuhan organisasi tanpa harus meninggalkan basis dan jati diri Nahdlatul Ulama. Menurutnya, organisasi modern perlu memiliki sistem pengelolaan yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

 

“Saya kira NU sekarang ini memang masih tetap memerlukan kemampuan tata kelola yang semakin modern dan manajemen yang mengikuti perkembangan zaman, serta target-target yang terukur. Bagaimanapun juga, itu adalah keniscayaan dari organisasi modern, walaupun tentu kita tidak pernah bisa melupakan basis daripada Nahdlatul Ulama,” ujarnya saat ditemui NU Online seusai Rapat Koordinasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Depok, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026) malam.

 

Ia menegaskan, penguatan tata kelola perlu dilakukan agar NU mampu mengikuti perubahan yang terus berlangsung.

 

“Tetapi tetap saja, dalam soal pengelolaan itu penting sekali diusahakan supaya bisa mengikuti perkembangan-perkembangan yang ada di dalam dunia yang sedang selalu mengalami perubahan ini,” katanya.

 

Dalam konteks kebangsaan, Hikam menilai NU memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan dan merawat demokrasi di Indonesia. Menurutnya, NU telah membuktikan kontribusinya melalui tindakan nyata sejak sebelum Indonesia merdeka.

 

“Banyak kita ketahui, NU ini kan sudah membuktikan bukan hanya di dalam retorika, tetapi di dalam tindakan. Sejak awal, bahkan sebelum bangsa kita merdeka, NU sudah berada di depan dalam rangka mewujudkan, memelihara, dan mengembangkan nilai-nilai dan praksis kebangsaan,” tuturnya.

 

Ia mengungkapkan, tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga global. Perubahan demografi, khususnya kemunculan generasi Z, turut memengaruhi cara masyarakat memahami nilai-nilai kebangsaan.

 

“Apalagi dengan tumbuhnya demografi yang berbeda sekali, yaitu Gen Z ini. Nah, masalah kebangsaan akan sangat terpengaruh karena generasi Z ini tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya, karena pengaruh teknologi digital,” ungkapnya.

 

Menurut Hikam, perkembangan teknologi digital membentuk gaya hidup sekaligus memengaruhi kondisi psikologis generasi muda. Karena itu, NU perlu menyesuaikan pendekatannya agar nilai-nilai kebangsaan tetap relevan bagi generasi Z.

 

“NU saya kira juga sangat perlu untuk memfokuskan kepada bagaimana mengembangkan nilai-nilai kebangsaan kepada Gen Z yang betul-betul berubah dan berbeda ini. Enggak bisa lagi kita menggunakan slogan-slogan lama tentang kebangsaan,” tegasnya.

 

Ia menekankan, NU perlu menghadirkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan generasi muda yang tidak terpisahkan dari teknologi digital. “Harus diwujudkan di dalam era di mana teknologi digital ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mereka,” pungkasnya.