Mustasyar PBNU KH Abdul Matin Djawahir Ajak Nahdliyin Waspadai Narasi Negatif di Medsos
Senin, 19 Oktober 2026 | 07:00 WIB
Mustasyar PBNU, KH Abdul Matin Djawahir dalam Pengajian Umum Peringatan Hari Santri dan Rutinan Majelis Taklim Fatayat-Muslimat NU di halaman MWCNU Trucuk, Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad (18/10/2026). (istimewa)
Bojonegoro, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Matin Djawahir, mengimbau warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyin) agar mewaspadai narasi negatif yang kerap beredar di media sosial. Ia juga meminta Nahdliyin tidak mudah terpengaruh konten provokatif yang bertujuan mendiskreditkan NU.
“Kalau melihat WA, kalau melihat YouTube, ada orang kalau menjelek-jelekkan NU, kalian tutup saja,” tutur Kiai Matin dalam Pengajian Umum Peringatan Hari Santri dan Rutinan Majelis Taklim Fatayat-Muslimat NU di halaman Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Ahad (18/10/2026).
Kiai Matin mengingatkan jamaah agar tidak terkecoh oleh konten provokatif yang sengaja dibuat untuk mendiskreditkan organisasi. Menurutnya, narasi semacam itu merupakan bagian dari upaya melemahkan NU dan mengikis kepercayaan masyarakat terhadap organisasi tersebut.
“Tujuannya ya agar NU bubar, agar NU ringkih, agar NU tidak lagi dipercaya masyarakat. Ini tujuannya,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, upaya menjatuhkan, merundung, hingga mengadu domba warga NU bukanlah hal baru dalam sejarah perjuangan para ulama. Menurutnya, berbagai upaya tersebut telah berulang kali terjadi, tetapi NU tetap bertahan.
“Sudah kalian tidak usah didengarkan. Itu bukan barang baru, dari dulu memang sudah ada. Sudah berapa kali orang NU ini, sudah berapa kali kiai-kiai ini dijatuhkan, dijelek-jelekkan, digesek, dibuli, dibentrokkan, berkali-kali pun. Yang lain bubar, tapi NU tetap,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Sunan Bejagung, Tuban, Jawa Timur, itu juga berpesan agar Nahdliyin senantiasa menjaga kedekatan batin dengan para kiai dan ulama. Menurutnya, penghormatan kepada ulama merupakan bagian penting dalam menjaga keberkahan hidup di dunia dan akhirat.
“Saya berpesan kepada kalian, tempelkan hati kalian ke kiai, hatinya tempelkan ke kiai, insyaallah bahagia dunia akhirat. Tapi kalau hati kalian dijauhkan dari kiai, lebih-lebih sampai membuli, menjelek-jelekkan, atau menjatuhkan kiai, saya khawatir yang seperti itu kalau ketularan seperti kisah dulu-dulu. Saat menjelek-jelekkan kiai, kita sendiri yang sakit semua,” ungkapnya.
Kiai Matin kemudian mengutip hadits qudsi yang menjelaskan kedudukan para wali Allah. Ia menegaskan bahwa hadits tersebut memuat peringatan keras bagi siapa pun yang memusuhi wali-wali Allah.
“Karena sudah ada sabda Kanjeng Rasulullah Muhammad saw, haditsnya sahih, man ‘ādā lī waliyyan. Aku ini punya kekasih. Kekasihku namanya nabi, kekasihku namanya wali. Yang mendirikan Nahdlatul Ulama ini walinya Gusti Allah. Kok kamu musuhi, kok kamu jelek-jelekkan: faqad ādhantuhu bil-harb. Sabda Allah ini. Aku bakal perintahkan malaikat memerangi kamu. Orang Jawa menyebutnya kualat,” tegas Kiai Matin.
Mengenang Perjuangan Santri dalam Kemerdekaan
Dalam kesempatan yang sama, Kiai Matin mengulas sejarah Hari Santri dan peran ulama serta santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, perjuangan para santri dan kiai menjadi bagian penting dalam sejarah bangsa, khususnya ketika Indonesia menghadapi ancaman kembalinya penjajahan.
“Makanya bangsa Indonesia terutama para santri terlebih Nahdlatul Ulama memperingati hari santri,” ungkapnya.
Kiai Matin menjelaskan, pengakuan terhadap peran santri tersebut kemudian dituangkan secara resmi melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri. Ia mengaitkan penetapan Hari Santri dengan peristiwa menjelang Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Saat itu, menurutnya, muncul kekhawatiran terhadap upaya Belanda dan sekutunya untuk kembali menguasai Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
“Tahun 2015 diputus oleh presiden menggunakan Keputusan Presiden, Kepres itu menggunakan dasar ketika Negara Indonesia diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945, kemudian tepatnya tanggal 22 Oktober tahun 45 bangsa Indonesia tahu bahwa Belanda, sekutu, Inggris, Jepang mau kembali, kembali menjajah Indonesia,” jelasnya.
Kiai Matin kemudian mengenang Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama pada 22 Oktober 1945 di bawah kepemimpinan Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Resolusi tersebut menegaskan kewajiban mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan.
“Kiai-kiai dipimpin oleh Hadratussyeikh Mbah Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, bermusyawarah dengan kiai-kiai membuat keputusan, bahwa, intinya, Belanda dan Inggris penjajah, ini adalah musuh bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia hukumnya wajib perang melawan penjajah,” tuturnya.
Ia menjelaskan, seruan perjuangan tersebut menjadi salah satu pemantik perlawanan rakyat, termasuk para santri dan pemuda di Surabaya. Perlawanan itu kemudian berkaitan erat dengan peristiwa 10 November 1945 yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Menurut Kiai Matin, keterbatasan persenjataan tidak menyurutkan semangat para pejuang. Saat itu, sebagian masyarakat hanya memiliki senjata sederhana, seperti bambu runcing, sedangkan pihak lawan memiliki persenjataan yang lebih modern.
“Itu bukan anak-anak Surabaya saja, seluruh santri dikomando kiai, sebab wajib hukumnya melawan londo. Urusan senapan tidak punya tidak apa-apa. Makanya dulu terkenal namanya bambu, bambu runcing,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan harus disertai keyakinan kepada pertolongan Allah swt. Kiai Matin mengingatkan warga Nahdliyin agar terus menjaga keimanan, mengikuti bimbingan para ulama, serta berkontribusi dalam membela agama dan negara.
“Tapi Allah kalau sudah memberi. Wa lillāhil-‘izzatu wa li rasūlihī wa lil-mu’minīn, wa lākinna al-munāfiqīna lā ya‘lamūn. Jangan khawatir, orang-orang yang membela agamanya Allah, membela negara, yang punya kemenangan Allah, yang menang utusannya Allah, yang menang orang-orang yang iman mengikuti para kiai para ulama,” pungkasnya.