Ngaji Ramadhan Gus Mus: Allah Mahadekat, Mengapa Manusia Justru Terhijab oleh Ciptaan-Nya?
Selasa, 24 Februari 2026 | 21:45 WIB
Mustasyar PBNU Gus Mus dalam Ngaji Ramadhan yang mengulas Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari, ditayangkan di Youtube NU Online. (Foto: tangkapan layar)
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan bahwa Allah sejatinya Mahadekat. Namun dalam kenyataannya, banyak manusia justru terhijab oleh ciptaan-Nya sendiri. Kekaguman pada alam dan berbagai makhluk kerap berhenti pada bentuk lahiriah, tanpa menembusnya menuju Sang Pencipta.
Hal itu disampaikan Gus Mus dalam Pengajian Ramadhan yang mengulas kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, sebagaimana ditayangkan di Youtube NU Online, diakses pada Senin (24/2/2026).
“Kekaguman sering berhenti pada apa yang tampak. Manusia terpukau pada keindahan alam, kecanggihan teknologi, atau kehebatan makhluk hidup, tetapi lupa kepada Dzat yang mewujudkannya,” kata Gus Mus.
Menurutnya, alam semesta—laut, gunung, tumbuhan, manusia, dan binatang—merupakan bukti keberadaan Allah. Seharusnya, setiap kali menyaksikan ciptaan, manusia semakin menyadari kebesaran Sang Pencipta. Namun yang kerap terjadi justru sebaliknya: manusia terperangkap pada ciptaan tanpa melampauinya.
Gus Mus kemudian memberi analogi sederhana. Seseorang dapat mengagumi televisi yang mampu menayangkan pertandingan sepak bola dari Italia ke Indonesia secara langsung, tetapi jarang memikirkan siapa pencipta perangkat tersebut.
“Demikian pula saat menyaksikan alam semesta, manusia sering lupa mengingat Allah yang menciptakannya,” kata Gus Mus.
Dalam perspektif tasawuf, lanjutnya, keadaan ini sesungguhnya mengherankan. Bagaimana mungkin sesuatu menutupi Allah, padahal Allah tampak melalui segala sesuatu? Tidak mungkin ada sesuatu yang benar-benar menutupi-Nya, sebab Allah telah ada sebelum segala sesuatu ada. Sebelum alam semesta tercipta, Allah sudah ada.
“Maka pertanyaannya, bagaimana mungkin sesuatu yang datang kemudian—yang bersifat baru (makhluk)—dapat menutupi Yang Maha Awal dan Maha Asal (qadim)? Secara logika, hal itu sulit diterima. Allah-lah yang mewujudkan segala sesuatu dan menciptakannya sendirian, tanpa ada sesuatu pun bersama-Nya dalam penciptaan,” urai Gus Mus.
Kiai yang juga dikenal sebagai seniman dan budayawan itu menegaskan bahwa manusia memang tidak dapat melihat Allah. Namun ketidakmampuan tersebut bukan karena Allah tertutup, melainkan karena mata—terutama mata hati—manusialah yang tertutup. Padahal, Allah lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya. Sesuatu yang sangat dekat pada hakikatnya tidak mungkin tertutup; yang tertutup biasanya karena jauh atau terhalang, sementara Allah Mahadekat.
Ia menambahkan, seandainya tidak ada Allah, tidak akan ada wujud apa pun. Segala sesuatu ada karena Allah yang mewujudkannya. Karena itu, menjadi pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin sesuatu yang diwujudkan oleh Allah justru dianggap menghalangi manusia dari-Nya?
Realitas inilah yang diingatkan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari. Ia menegaskan, tidak ada sesuatu pun yang mampu menghalangi manusia dari Allah.
"Yang ada hanyalah kelalaian manusia yang berhenti pada ciptaan dan tidak melampauinya menuju Sang Pencipta," kata Gus Mus.