Nasional

Optimis, GP Ansor Harap Kepengurusan Baru PBNU Bawa Penguatan Organisasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Optimis, GP Ansor Harap Kepengurusan Baru PBNU Bawa Penguatan Organisasi

Ketua Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin (Foto: NU Online/Haekal Attar)

Jakarta, NU Online

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (GP) Ansor Addin Jauharudin mengaku optimis dengan komposisi pengurus yang baru dilantik. Ia menilai keragaman unsur dan sumber daya manusia dalam kepengurusan baru ini menjadi modal untuk membuat PBNU tampil lebih kuat. Hal ini diharapkan dapat berdampak pada penguatan organisasi dan martabat jam'iyyah.

 

"Saya sih optimis ya dengan keanekaragaman apa namanya kalangan, kemudian sumber daya manusia, mudah-mudahan ke depan lebih muncul, lebih kuat dan tentu membawa dampak kepada apa penguatan organisasi, juga martabat Jam'iyyah," katanya usai pelantikan pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 di Pesantren Al Hamid, Cilangkap, Jakarta, Sabtu (24/10/2026).

 

Di sisi lain, ia menyebut peningkatan sumber daya manusia warga Nahdliyin, pemerataan program ekonomi, dan pembaruan pola dakwah sebagai persoalan paling mendasar yang harus dijawab PBNU ke depan. 

 

Menurut Addin, capaian yang sudah baik di tubuh organisasi perlu terus dikembangkan, sembari memetakan persoalan mendasar yang akan dihadapi dalam lima tahun mendatang. 

 

Ia menilai persoalan pertama adalah bagaimana meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kalangan warga Nahdliyin sebagai fondasi penguatan organisasi.

 

"Kualitas yang sudah baik harus dikembangkan. Dan menurut saya ke depan kita punya problem yang paling mendasar yaitu soal apa, soal bagaimana meningkatkan sumber daya manusia warga Nahdliyin," ujarnya.

 

Persoalan kedua, lanjut Addin, berkaitan dengan program pengembangan ekonomi. Ia menekankan bahwa program yang dijalankan organisasi tidak boleh hanya berhenti di tingkat elite atau kalangan tertentu, melainkan harus dirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai lapisan dan sesuai dengan kebutuhan mereka.

 

"Yang kedua adalah soal program-program pengembangan ekonomi yang merata, yang relevan, yang menyentuh masyarakat," katanya.

 

Adapun persoalan ketiga menyangkut cara berdakwah. Addin menyatakan bahwa pola dakwah yang selama ini dijalankan perlu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman agar tetap relevan. 

 

Ia menegaskan, tiga agenda tersebut menuntut kepengurusan baru untuk lebih banyak hadir di tengah masyarakat dan membenahi tata kelola organisasi.

 

"Ketiga adalah pola dakwah kita yang memang harus berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Saya pikir itu sih. Jadi, ini saatnya kita turun ke bawah, merangkul masyarakat, dan memperbaiki tata kelola organisasi," tegasnya.