Nasional

PBNU Diharapkan Menjadi Penyalur Aspirasi Jamaah hingga Akar Rumput

Selasa, 27 Oktober 2026 | 12:30 WIB

PBNU Diharapkan Menjadi Penyalur Aspirasi Jamaah hingga Akar Rumput

A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hj Badriyah Fayumi di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu, (24/10/2026). (Foto: NU Online/Suci)

Jakarta, NU Online 

A’wan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hj Badriyah Fayumi berharap kepengurusan NU periode 2026–2031 mampu mengartikulasikan aspirasi jamaah hingga ke tingkat akar rumput. Ia juga mendorong NU memperkuat kembali peran pesantren sebagai basis kaderisasi dan gerakan organisasi.


“Kita sangat berharap NU ini menjadi jam’iyah-nya jamaah. Jadi suara dan aspirasi jamaah itu benar-benar bisa diartikulasikan oleh pengurus NU di semua tingkatan,” kata Badriyah dalam rangkaian pengukuhan pengurus PBNU di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu, (24/10/2026).


Badriyah menekankan pentingnya hubungan timbal balik antara jam’iyah, atau organisasi NU, dan jamaah sebagai warga yang dilayaninya. Menurut dia, organisasi harus mampu menampung keragaman suara masyarakat, bukan hanya menjalankan agenda internal kepengurusan.


Ia juga berharap NU menjadi organisasi masyarakat yang mandiri dan mampu memperkuat peran civil society atau masyarakat sipil dalam kehidupan berbangsa. Badriyah mengatakan NU memiliki tradisi yang berakar pada ulama sehingga dapat menjadi kekuatan masyarakat sipil yang mendukung kepentingan bangsa dan negara.


Menurut dia, pemerintah dan masyarakat sipil perlu menjalankan peran masing-masing secara sinergis tanpa saling menguasai. Dengan begitu, keduanya dapat berkontribusi bagi kepentingan publik tanpa kehilangan independensinya.


“NU ini DNA-nya organisasi masyarakat. Kita ingin negara ini kuat, ada pemerintahannya dan ada civil society-nya, yang saling mendukung untuk kepentingan bangsa dan negara, tidak saling mengkooptasi,” ujarnya.


Selain memperkuat peran masyarakat sipil, Badriyah menyoroti pentingnya mengembalikan pesantren sebagai basis utama gerakan NU. Ia menyambut pemilihan Pondok Pesantren Al-Hamid sebagai lokasi pengukuhan pengurus baru, tetapi mengingatkan agar momentum tersebut tidak berhenti pada simbol atau seremoni.


Menurut dia, semangat kembali ke pesantren perlu diwujudkan dalam pemikiran, gerakan, dan sistem kaderisasi organisasi. Ia berharap pesantren-pesantren NU menjadi tempat pembinaan kader yang dijalankan secara serius dan berkelanjutan.


Badriyah juga mendorong penguatan kaderisasi pelajar melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU). Ia menilai santri dan pelajar yang saat ini menempuh pendidikan di lingkungan pesantren merupakan bagian penting dari masa depan NU.


“Pesantren adalah NU kecil. Kita berharap NU benar-benar kembali ke pesantren, bukan hanya secara seremonial, tetapi juga secara substantif dan gerakan,” kata dia.


Badriyah turut menekankan pentingnya NU mengakomodasi aspirasi perempuan dan kelompok rentan, termasuk anak-anak, penyandang disabilitas, serta kelompok minoritas. Menurut dia, NU perlu menjalankan peran sebagai pengayom, baik bagi kelompok rentan di lingkungan internal organisasi maupun masyarakat luas.


Ia berharap gagasan-gagasan tersebut terus dikawal dalam proses penyusunan kebijakan dan program kerja kepengurusan baru. Dengan landasan teologis yang kuat serta keberpihakan kepada masyarakat, Badriyah ingin NU menjadi salah satu penopang kehidupan berbangsa dan bernegara.


“Suara perempuan terutama yang kelompok-kelompok rentan, yang perempuan, anak, disabilitas, kemudian juga kelompok rentan dari bangsa ini, mereka yang minoritas karena ya NU memang kita harapkan menjadi pengayom. Kelompok mayoritas yang mengayom. Mengayomi kelompok-kelompok rentan di internal NU sendiri dan juga kelompok-kelompok rentan dari bangsa ini,” paparnya.