PBNU Siapkan Pemetaan Bakat Santri untuk Jembatani Kebutuhan Industri
Sabtu, 24 Oktober 2026 | 12:00 WIB
Wakil Ketua Umum PBNU H Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid. (Foto: NU Online/SUwitno)
Depok, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyiapkan program pemetaan bakat santri melalui Passport Talent Santri untuk mengidentifikasi potensi individu sekaligus menjembatani keterampilan mereka dengan kebutuhan dunia industri.
Wakil Ketua Umum PBNU H Irfan Asy’ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid mengatakan, program tersebut telah diuji coba di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Pemetaan ini bertujuan mengenali bakat individu, mengidentifikasi keterampilan karier yang sesuai, serta mempertemukan talenta dengan kebutuhan industri.
“Kita sudah melakukan Passport Talent Santri. Kita menggunakan pilot-nya di Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy), Tebuireng, Jombang. Coba kita lihat tujuan program Passport Talent. Problem utama adalah talent, talenta. Kita tidak bisa mengidentifikasi talent-nya apa. Dengan program ini, kita mengidentifikasi kejeniusan setiap individu. Kedua adalah keterampilan karier yang personal, dan yang paling penting adalah link and match industri dan talent,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Depok, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).
Gus Ipang mengungkapkan, ketidaksesuaian antara potensi individu dengan pilihan pendidikan dan pekerjaan masih menjadi persoalan yang perlu diatasi.
Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dipaparkannya, 97 persen santri atau siswa tidak mengetahui jurusan yang ingin dipilih. Sementara itu, 83 persen mahasiswa disebut salah memilih jurusan setelah masuk perguruan tinggi. Adapun 82 persen korporasi disebut memilih talenta yang tidak tepat.
“Faktanya adalah 97 persen santri atau siswa tidak tahu mau pilih jurusan apa. 83 persen sudah masuk ternyata salah jurusan. Dan 82 persen dari korporasi mereka memilih talent yang salah,” katanya.
Dalam uji coba di Unhasy, PBNU mengumpulkan data dari 1.360 mahasiswa. Hasil pemetaan menunjukkan beragam kecenderungan bakat, mulai dari kemampuan mencapai target, perfeksionisme, hingga daya saing.
Pemetaan tersebut juga menemukan minat mahasiswa pada bidang perikanan dan perkebunan, meskipun kedua bidang itu tidak tersedia sebagai program studi di kampus tersebut.
“Jadi kita tahu persis kekuatan dan kelemahan kita,” kata Gus Ipang.
Menurutnya, hasil pemetaan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi lembaga pendidikan dalam mengembangkan program studi yang sesuai dengan minat dan potensi peserta didik. Dengan demikian, pilihan pendidikan tidak hanya bergantung pada program studi yang tersedia, tetapi juga mempertimbangkan kecenderungan bakat masing-masing individu.
“Ini akan memudahkan kita untuk link and match. Contohnya seperti apa? Misalnya kita mau cari yang nelayan, kita mau cari teknisi operator industri, dari sini akan ketahuan, oh anak ini si A, si B, si C ini yang paling kuat. Jadi industri akan dengan mudah ambil ke sini,” ucapnya.
Gus Ipang menambahkan, inisiatif pemetaan bakat tersebut telah diajukan kepada Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama. Ke depan, program ini direncanakan dikembangkan di sejumlah pesantren besar.
“Dirjen Pendis akan melakukan inisiasi di pesantren-pesantren besar yang ada. Itu akan kita lakukan,” pungkasnya.