Pelantikan PBNU, Rais Aam: Singkirkan Kepentingan Pribadi dan Rangkul Masyarakat
Sabtu, 24 Oktober 2026 | 13:30 WIB
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat memberikan amanat kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masa Khidmah 2026-2031 di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).
Jakarta, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menekankan pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Qanun Asasi seperti welas asih, persatuan dan kasih sayang untuk menjalankan amanah mengelola jamiyah. Dengan nilai-nilai tersebut, Kiai Miftach mengajak segenap pengurus untuk menyingkirkan kepentingan personal.
"Singkirkan kepentingan-kepentingan pribadi. Apalagi ini mengawali abad kedua kepengurusan Nahdlatul Ulama," tuturnya usai membaiat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masa Khidmah 2026-2031 di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur, Sabtu (24/10/2026).
Kiai Miftach mengatakan, pada abad kedua ini NU menghadapi tantangan serius berupa perkembangan media digital. Menurutnya, media digital kerap menjebak seseorang bersuara tanpa dilandasi oleh ilmu dan data.
"Orang sudah sulit membedakan mana yang benar dan yang salah. Orang banyak terjungkir karena perbedaannya sangat tipis," ujarnya.
Menghadapi tantangan itu, Kiai Miftach menegaskan bahwa peran PBNU dan pengurus NU di setiap level adalah memberikan angin segar kepada mereka. Pada dasarnya celoteh atau, cibiran, penghasutan sebagian orang itu, lanjutnya, pada dasarnya belum mampu membedakan antara yang benar dan keliru.
Ia meminta agar pengurus tidak berlarut-larut menghadapi sikap masyarakat seperti demikian. Namun, ia menganjurkan untuk menghadapinya dengan berbagai program-program keorganisasian.
"Mari, kita cari cara bagaimana mereka bisa kembali ke jalan yang benar agar para muassis ini senang dengan kita," ajak Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya itu.
Ia pun kembali menegaskan bahwa umat NU tidak hanya berasal dari kalangan, kultur atau latar belakang tertentu. Akan tetapi, kaum Nahdliyin merupakan kumpulan orang yang berbeda secara ekonomi, politik hingga latar belakang keilmuan.
Keragaman tersebut, kata Kiai Miftach, menjadi kewajiban yang harus selalu diupayakan pengurus untuk mendorong wujudnya umat yang selaras dengan cita-cita muassis NU yang bersambung kepada Nabi Muhammad.
"Bagaimana mereka bisa menjadi lebih baik itu kewajiban kita. Bagaimana cara kita berdakwah, merangkul tidak memukul karena itu contoh dari Rasulullah Saw," terangnya.
Untuk diketahui, susunan lengkap pengurus PBNU masa khidmah 2026–2031 tercantum dalam SK PBNU Nomor 2/PB.01/A.II.01.01/99/09/2026. Struktur tersebut terdiri atas Mustasyar, Pengurus Harian Syuriyah, A'wan, serta Pengurus Harian Tanfidziyah.
Adapun tamu undangan yang hadir antara lain Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid, KH Luqman Hakim Hamid, Walikota Jakarta Timur, Munjirin dan Jajaran Forkopimda, Ketua DPRD DKI Jakarta Suhur Alynudin dan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Sutikno.