Pendidikan Kesehatan Reproduksi Bekali Santri Menjaga Diri dan Sesama
Kamis, 15 Oktober 2026 | 22:30 WIB
Kegiatan kelas Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri (PKRS) yang diikuti oleh 60 santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Pesantren Assalafiyah Mlangi, Yogyakarta pada Rabu (14/10/2026). (Foto: Suci/NU Online).
Yogyakarta, NU Online
Pendidikan kesehatan reproduksi menjadi salah satu upaya membekali santri dengan pengetahuan tentang tubuh, keterampilan mengelola diri, serta kemampuan melindungi diri dan sesama.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kelas Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri (PKRS) yang diikuti oleh 60 santri tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), terdiri atas 30 santri putra dan 30 santri putri, di Pondok Pesantren Assalafiyyah II Mlangi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB tersebut menggunakan modul PKRS Santri yang disusun Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PBNU bersama United Nations Population Fund (UNFPA) pada 2024–2025.
Fasilitator PKRS Nurmey Nurulchaq yang akrab disapa Ruly, mengatakan pendidikan kesehatan reproduksi penting diberikan sejak masa remaja agar santri memahami perubahan yang terjadi pada dirinya.
“Kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari kesehatan dan kesejahteraan manusia yang perlu dipahami sejak masa remaja,” kata Ruly kepada NU Online, Kamis (15/10/2026).
Menurutnya, pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren tidak hanya berkaitan dengan pemahaman tentang perubahan fisik selama masa pubertas, tetapi juga mencakup aspek psikologis, sosial, moral, dan spiritual.
"Pelaksanaan kelas ini turut melibatkan relawan mahasiswa Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk mendukung proses pembelajaran. Materi disampaikan dengan pendekatan yang disesuaikan dengan tahap perkembangan santri," kata Ruly.
Dalam modul PKRS Santri, terdapat tujuh pokok bahasan utama, yakni mengenali diri (Ma'rifatu bin Nafs), karakter Mumtaz, pengetahuan dasar kesehatan reproduksi, akhlak dan etika Qur'ani, fondasi tauhid, iman dan takwa, keterampilan mengelola diri dan relasi, serta peran santri sebagai pendidik sebaya dan agen rujukan.
Adapun materi kesehatan reproduksi mencakup pemahaman tentang tubuh, perubahan pada masa pubertas, menstruasi, mimpi basah, serta kebersihan dan perawatan diri.
"Santri juga dibekali keterampilan mengenali dan mengelola emosi, berkomunikasi secara sehat, menghargai batas pribadi, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab," katanya.
Pembelajaran tersebut mengintegrasikan pengetahuan kesehatan reproduksi dengan nilai-nilai Islam. Penguatan karakter dilakukan melalui nilai Mas'uliyyah atau tanggung jawab, Maslahah atau kemaslahatan, Martabah atau martabat, dan Ta'awun atau tolong-menolong.
"Keempat nilai tersebut menjadi landasan bagi santri untuk membangun perilaku yang bertanggung jawab, menghormati orang lain, serta menjaga kemaslahatan bersama," jelasnya.
Bekali santri cegah kekerasan
Salah satu aspek penting dalam pendidikan kesehatan reproduksi adalah meningkatkan kesadaran santri mengenai perlindungan diri dan sesama, termasuk pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.
Melalui pembelajaran ini, kata Ruly, santri diharapkan mampu mengenali situasi yang tidak aman, memahami pentingnya menjaga batas pribadi, serta mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika menghadapi situasi yang membutuhkan pertolongan. Santri juga diperkenalkan dengan peran sebagai pendidik sebaya dan agen rujukan.
Peran ini mendorong mereka untuk berbagi pengetahuan secara bertanggung jawab, memberikan dukungan kepada teman sebaya, serta menghubungkan teman yang membutuhkan bantuan dengan pihak yang tepat.
"Santri tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun lingkungan pertemanan yang saling menghormati dan mendukung keselamatan satu sama lain," ungkapnya.
Pendidikan kesehatan reproduksi tersebut juga diarahkan untuk memperkuat penghargaan terhadap martabat diri, mengembangkan keterampilan sosial, serta menanamkan tanggung jawab dalam menjaga kesehatan dan keselamatan diri maupun orang lain.
Pelaksanaan kelas PKRS di PP Assalafiyyah II Mlangi diharapkan dapat meningkatkan literasi kesehatan reproduksi, memperkuat karakter santri, dan mengembangkan keterampilan dalam membangun relasi yang sehat.
Capaian tersebut, imbuh Ruly, perlu diperkuat melalui evaluasi, pendampingan, dan tindak lanjut agar peningkatan pengetahuan maupun keterampilan santri dapat diukur.
"Pendidikan kesehatan reproduksi dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mewujudkan lingkungan pesantren yang aman, sehat, suportif, dan ramah bagi tumbuh kembang santri," tandasnya.
Salah satu peserta dari MTs Salafiyah Mlangi, Latifah mengaku mendapatkan banyak ilmu dari pelatihan tersebut mulai dari pentingnya menjaga kebersihan organ reproduksi, menjaga pergaulan, lebih hati-hati.
"Kami dapat bekal sebanyak-banyaknya bagaimana kami harus menjaga kebersihan organ reproduksi, bagaimana kami harus menjaga pergaulan di dunia luar dalam kehidupan sehari-hari untuk bekal kami saat keluar di pondok nanti," jelas Latifah.
Harapannya, kegiatan ini juga bisa dijalankan untuk para santri di pesantren lainnya. "Harapannya adalah untuk seluruh santri Assalafiyah, kalau bisa seluruh santri di Indonesia tahu bagaimana pentingnya menjaga organ reproduksi ini," tandasnya.
Sebelumnya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan United Nations Population Fund (UNFPA) menggelar Dialog Peran Tokoh Agama dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi di Pesantren Assalafiyah II Mlangi, Yogyakarta, Rabu (14/10/2026). Kegiatan ini menekankan pentingnya keterlibatan tokoh agama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesehatan reproduksi dan perlindungan perempuan.