Rais Aam PBNU Sempatkan Ngaji Al-Hikam Sebelum Berangkat Rapat Koordinasi ke Jakarta
Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:00 WIB
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat mengisi Ngaji Kitab Syarah al-Hikam bertempat di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan No. 100, Surabaya, Jumat (23/10/2026). (Foto: tangkapan layar Multimedia KH Miftachul Akhyar)
Surabaya, NU Online
Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyempatkan diri mengaji Kitab Syarah al-Hikam bersama jamaahnya sebelum bertolak ke Jakarta untuk menghadiri rapat koordinasi (rakor) PBNU. Karena agenda tersebut, Kiai Miftach mengakhiri pengajian rutin bakda shalat Jumat kali ini lebih cepat dari biasanya.
“Saya minta maaf ngaji hari ini sedikit saja, karena saya akan ke Jakarta,” katanya setelah membacakan kitab dalam kanal YouTube Multimedia KH Miftachul Akhyar, dikutip NU Online, Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa amal yang sedikit, tetapi dilakukan dengan ikhlas, dapat mendatangkan keberkahan. Amalan yang dijalankan secara konsisten itu, menurutnya, juga dapat membuka jalan bagi hadirnya manfaat lain.
“Sedikit tapi berkah akan mengembang dan terus mengembang. Bisa jadi lewat ngaji Hikam ini, panjenengan bisa baca Ihya’, al-Luma dan kitab-kitab lainnya. Semua itu datang dari keberkahan ini,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah itu juga menekankan pentingnya wirid dalam peribadatan Islam. Ia merujuk pada pembahasan dalam Kitab al-Hikam yang memuat tiga aforisma tersendiri mengenai wirid.
Menurut Kiai Miftach, orang yang mengabaikan wirid menunjukkan ketidaksadaran terhadap pentingnya kesempatan beribadah. Sebab, kesempatan untuk mengamalkan wirid selama hidup di dunia tidak selalu datang kembali.
Ia pun mengajak jamaah untuk mengamalkan berbagai wirid yang mudah dilakukan sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.
“Terserah mau wirid apa saja, banyak macamnya. Mumpung kita ini masih di dunia,” tutur Kiai Miftach.
Kisah Imam Junaid al-Baghdadi
Kiai Miftach kemudian mengisahkan Imam Junaid al-Baghdadi, tokoh besar dalam dunia tasawuf yang tetap memegang tasbih meski telah mencapai kedudukan tinggi dalam perjalanan spiritualnya.
Suatu ketika, seorang santri mendapati Imam Junaid masih menggunakan tasbih dan mempertanyakan kebiasaan tersebut. Menurut Kiai Miftach, Imam Junaid menjelaskan bahwa tasbih menjadi salah satu sebab dirinya memperoleh kemuliaan dari Allah SWT.
“Imam Junaid bilang, tasbih inilah salah satu yang membuat saya memperoleh kemuliaan dari Allah,” katanya.
Kiai Miftach menjelaskan bahwa kisah tersebut mengajarkan seseorang agar tidak meremehkan sesuatu sekecil apa pun, termasuk amalan sederhana yang selama ini dijalankan.
Prinsip serupa, lanjutnya, juga berlaku dalam kehidupan berorganisasi. Seseorang hendaknya tidak melupakan jasa dan kontribusi orang lain, sekalipun kontribusi tersebut terlihat kecil atau tidak menonjol.