Syekh Yusuf al-Makassari: Sufi Nusantara yang Ubah Dzikir Jadi Gerakan Pembebasan
Jumat, 9 Oktober 2026 | 23:00 WIB
Diskusi Film Syekh Yusuf al-Makassari: In the Blessing of Ceylon yang diselenggarakan Madani Film Fest bekerka sama dengan kampus Unusia di Ruang Jacob Oetama, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jakarta, Jumat (9/10/2026). (Foto: NU Online/Risky)
Jakarta, NU Online
Syekh Yusuf al-Makassari menunjukkan bahwa tasawuf bukan hanya himpunan ritual atau dzikir. Tasawuf ditangannya juga berubah menjadi landasan kesadaran yang menumbuhkan gerakan pembebasan kemanusiaan.
Perasan pemikiran ulama sufi asal Nusantara tersebut mengerucut dalam Diskusi Film Syekh Yusuf al-Makassari: In the Blessing of Ceylon yang diselenggarakan Madani Film Fest bekerka sama dengan kampus Unusia di Ruang Jacob Oetama, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jakarta, Jumat (9/10/2026).
Dosen Fakultas Islam Nusantara Ginanjar Sya’ban mengemukakan kiprah Syekh Yusuf sejak menjabat sebagai penasehat urusan agama Kesultanan Banten hingga tokoh agama di Srilanka.
Ia bercerita, Syekh Yusuf saat itu membantu kesultanan Banten dalam menyusun strategi perang secara gerilya melawan kolonialisme VOC, Belanda. Sikap ini yang menyebabkan dirinya ditangkap lalu dideportasi dari bumi Nusantara.
"Itu tahun 1683 ditangkap di Priangan Timur, Tasikmalaya. Ketika ditahan di Batavia itu pengaruhnya masih sangat besar lalu dibuang lagi ke Srilanka kurang lebih hampir 10 tahun, dari 1684-1693," ungkap Ginanjar.
Meski diasingkan, Syekh Yusuf tak berhenti menulis untuk menebarkan gagasan dan menebarkan spirit keagamaan. Hal ini Ginanjar alamatkan kepada kesaksian penulis asal Belanda berjudul Old and New as Indie yang menggambarkan penghormatan Srilanka terhadap Syekh Yusuf.
Baca Juga
Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari
"Karena itu di mukadimah Film ini disebut 'datang kepadaku seorang ulama lokal Srilanka namanya Syekh Ibrahim, dia minta untuk aku mengajarinya, tapi apalah saya ini yang masih seorang murid yang harus belajar'," katanya.
Ia pun menegaskan bahwa jauh sebelum para tokoh sufi Timur Tengah seperti Umar Mukhtar dari Libya, Syamil Basayif dark Kaukasia melakukan perlawanan terhadap penjajah, Syekh Yusuf tiga abad sebelumnya telah memulainya.
Ia menilai, di samping soal kedudukannya sebagai advisor dan masa kolonialisme yang terjadi, spirit tersebut berangkat dari internalisasinya terhadap nilai-nilai sufistik yang cenderung filosofis, meski pada akhirnya tasawuf corak ini dianggap sesat oleh mufti Batavia saat itu. Karena kiprah tersebut, menurutnya, beliau layak disebut sebagai ulama transformatif bertaraf internasional.
"Yang perlu kita catat model sufismenya Syekh Yusuf ini sufisme falsafi, karena beliau mampu mentransformasikan ajaran sufistiknya menjadi gerakan pembebasan kemanusiaan atau aktivisme, " tegas penggiat manuskrip tersebut.
Sementara itu, Dewan Pengarah Madani Film Fest Inayah Wulandari Wahid menjelaskan pentingnya pembahasan tokoh asal Gowa, Sulawesi ini. Ia berefleksi, saat ini ia jarang menemukan pemikiran ulama yang menjadikan ritual atau dzikir sebagai langkah awal untuk memberantas kezaliman.
"Karena Syekh Yusuf al-Makassari itu adalah gambaran betapa defisitnya kita tentang ulama Islam yang sesungguhnya harus menjadi pemimpin hari ini," ujarnya.
Inayah mengatakan bahwa Syekh Yusuf merupakan ulama yang tak terlalu mempermasalahkan model ritual, melainkan lebih menekankan dampak substansial sebagaimana tertuang al-Barakat as-Sailaniyah.
"Dan yang menarik di buku itu, Syekh Yusuf ngomong dengan jelas bahwa dzikir itu peranannya besar sekali. Syekh Yusuf gak ngomong caranya dzikir yang baik tetapi lebih dalam lagi yaitu bagaimana dzikir harus membangun kesadaran," terang putri bungsu Gus Dur itu.
Privilese ditambah kesadaran itu yang disebut sebagai faktor dalam menebarkan nilai-nilai keislaman yang membebaskan. Ia menyebut, meski badannya diisolasi atau diasingkan nilainya masih menjalar dan berkembang.
Sementara itu, Produser Film Irvan Aulia mengungkapkan alasan tokoh ini dipilih dalam film dokumenter yang digarap tim Madani. Ia mengatakan, hal tersebut bertolak dari arus utama kalangan sufistik yang cenderung memperbaiki hubungan diri sendiri dengan sang Pencipta.
"Tapi Syekh Yusuf ini ternyata tidak, oh dia melawan juga kok, itu gak cuman menyendiri," ungkap Irvan.
Selain itu, ia melihat spirit yang dibawa Syekh Yusuf sangat dekat para pemuda. Spirit itu berupa transformasi dari pemikiran kepada sebuah pergerakan yang berkesinambungan.