Tekanan Ekonomi Kian Berat, Ekonom Dorong Pemerintah Mitigasi dengan 3 Langkah
Rabu, 23 September 2026 | 12:00 WIB
Jakarta, NU Online
Ekonom Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teguh Dartanto memprediksi kondisi sosial ekonomi masyarakat akan semakin tertekan dalam enam bulan ke depan jika tidak ada upaya serius dari pemerintah untuk memitigasi tekanan harga, biaya pendidikan, dan sulitnya lapangan kerja.
"Kita tidak bisa menebak secara pasti (Sampai kapan masyarakat bisa bertahan), tetapi jika tidak ada upaya serius untuk mitigasi terhadap hal ini," katanya kepada NU Online pada Rabu (23/9/2026).
Teguh mengatakan, kondisi tersebut berpotensi semakin berat karena adanya fenomena El Nino yang menyebabkan musim kering berlangsung panas dan lebih lama.
"(Kondisi itu) Mengakibatkan kesulitan air serta kejadian berbagai macam kebakaran hutan sehingga kombinasi kenaikan harga pangan," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa kombinasi kenaikan harga pangan dan dampak El Nino berpotensi memicu kerentanan sosial di masyarakat. Hal itu, katanya, dapat terjadi karena masyarakat menghadapi sejumlah persoalan secara bersamaan.
"El Nino bisa memicu kerentakan sosial di masyarakat karena sulit air, sulit pekerjaan dan harga pangan mahal," katanya.
Perlu mitigasi tekanan ekonomi
Selain itu, Teguh mendorong pemerintah melakukan sejumlah langkah mitigasi untuk mencegah kondisi sosial ekonomi masyarakat semakin terjepit. Pertama, katanya, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
Kedua, lanjutnya, pemerintah perlu memperkuat mitigasi risiko El Nino, antara lain melalui pelaksanaan hujan buatan dan distribusi air ke daerah-daerah yang mengalami kekeringan serta kesulitan air.
Ketiga, kata Teguh, pemerintah perlu menyiapkan program kerja padat karya musiman melalui peningkatan dana transfer ke daerah dan dana desa.
"Program kerja padat karya musiman melalui peningkatan dana transfer ke daerah dan dana desa sehingga bisa meningkatkan kesempatan kerja," terangnya.
Ketahanan ekonomi Indonesia
Sementara itu, Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan harga pangan terus dipantau karena sejumlah komoditas mengalami kenaikan. Ia juga mengaku tetap menjaga harga BBM bersubsidi, tarif listrik, dan sejumlah harga yang menjadi kewenangan pemerintah.
Terkait ketahanan ekonomi, ia memaparkan bahwa keadaan saat ini terlihat mulai pulihnya arus modal ke pasar keuangan domestik. Hingga 11 September 2026, katanya, capital inflow mencapai Rp141,6 triliun, arus modal asing neto ke SBN tercatat Rp40,8 triliun, sedangkan arus masuk SRBI mencapai Rp171,6 triliun.
Suahasil mengungkapkan bahwa ketahanan ekonomi juga terlihat dari kinerja APBN. Hingga akhir Agustus 2026, keseimbangan primer APBN tetap positif dan defisit anggaran masih terkendali.
“Pendapatan negara Rp 2.055,6 triliun, 65 persen dari target. Belanja negaranya Rp 2.295 triliun, maka defisitnya adalah Rp 240,1 triliun, yang artinya adalah 0,93 persen dari PDB kita,” pungkasnya dalam dalam Konferensi Pers APBN Kita di Kantor Kemenkeu, Jakarta, pada Jumat (18/09/2026).