Nasional

Temui Kardinal Suharyo, Gus Yahya Inisiasi Kerja Sama Perkuat Ketahanan Sosial

Jumat, 10 April 2026 | 22:15 WIB

Temui Kardinal Suharyo, Gus Yahya Inisiasi Kerja Sama Perkuat Ketahanan Sosial

Pertemuan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Uskup Agung Kardinal Suharyo di Jakarta, Jumat (10/4/2026). (Foto: TVNU/Miftah)

Jakarta, NU Online

 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlhatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) melakukan pertemuan dengan Uskup Agung Jakarta Ignatius Suharyo di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, pada Jumat (10/4/2026). 

 

Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas agama dalam menghadapi tantangan global terutama krisis di Asia Barat yang kian kompleks.

 

Ketua PBNU Alissa Wahid menyampaikan, pertemuan tersebut difokuskan pada inisiatif penguatan ketahanan sosial di tingkat akar rumput yang tengah digagas PBNU dalam beberapa waktu terakhir.

 

"Sore hari ini, hari Jumat, 10 April 2026, Ketum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf bertemu dengan Monsinyur Kardinal Suharyo dari Gereja Katolik Indonesia. Beliau adalah Uskup Agung Jakarta dari Keuskupan Agung Jakarta," ujar Alissa.

 

Ia menjelaskan, Kardinal Suharyo merupakan salah satu dari dua kardinal di Indonesia dan menjadi tokoh penting bagi umat Katolik. Karena itu, pertemuan ini dinilai strategis dalam membangun sinergi antarumat beragama.

 

Dalam pembicaraan tersebut, Gus Yahya menyoroti dampak ketidakpastian geopolitik global yang dinilai akan berpengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat di dalam negeri.

 

"Ketum menyampaikan inisiasi yang beberapa hari ini sedang difokuskan oleh PBNU yaitu terkait dengan penguatan ketahanan sosial di tingkat akar rumput. Ketum menyampaikan bagaimana ketidakpastian global geopolitik itu pasti akan membawa banyak sekali dampak bahkan kepada Indonesia dari berbagai faktor," lanjutnya.

 

Menurut Alissa, kondisi global yang tidak menentu menuntut kesiapan masyarakat agar memiliki daya tahan yang kuat, terutama dalam menghadapi situasi yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial.

 

"Karena itu, kita perlu untuk mempersiapkan bagaimana agar warga bangsa itu punya ketahanan yang lebih tinggi sehingga ketika ada situasi yang misalnya kurang bagaimana ya jadi kurang kondusif gitu itu warga bangsa sendiri punya mekanisme-mekanisme yang bisa menjadi semacam shocked breaker," katanya.

 

Ia menegaskan, gagasan tersebut berangkat dari nilai gotong royong sebagai fondasi kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Atas dasar itu, PBNU mulai menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai organisasi keagamaan.

 

"Sebetulnya, berangkatnya dari semangat gotong-royong. San karena itu, Ketum menginisiasi kerja sama dengan berbagai organisasi masyarakat keagamaan di Indonesia. Beliau sudah bertemu dengan beberapa tokoh dari ormas-ormas keagamaan. Dan hari ini bertemu dengan Romo Kardinal Suharyo yang adalah sesepuh bagi warga Katolik di Indonesia," jelasnya.

 

Ia menyebutkan bahwa pertemuan tersebut juga membahas peluang kerja sama konkret, khususnya dalam penguatan sosial ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

 

"Yang dibicarakan tadi adalah peluang-peluang kerja sama, kerja sama peningkatan sosial ekonomi, kerja sama di tingkat akar rumputnya sehingga dari kerjas ama ini harapannya warga itu bisa menjadi lebih tangguh menghadapi bencana, menghadapi tantangan dan dinamika apapun begitu," pungkasnya.