Wisuda ke-12, Rektor: Unusia Komitmen Bangun Pendidikan Inklusif
Ahad, 27 September 2026 | 10:00 WIB
Jakarta, NU Online
Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) menegaskan komitmennya membuka akses pendidikan tinggi yang inklusif bagi masyarakat, termasuk perempuan. Komitmen itu tercermin dalam Wisuda XII Unusia yang meluluskan 404 wisudawan dari enam fakultas dan tiga jenjang pendidikan.
Rektor Unusia Jakarta Fariz Alnizar mengatakan, dari 404 wisudawan tersebut, sebanyak 221 orang atau 54,7 persen merupakan perempuan. Sementara 183 wisudawan atau 45,3 persen lainnya adalah laki-laki.
Menurut Fariz, komposisi tersebut menunjukkan Unusia secara konsisten menjadi perguruan tinggi yang terbuka bagi perempuan Indonesia.
"Artinya secara konsisten Unusia menjadi pendidikan yang inklusif dan terbuka bagi perempuan Indonesia," kata Fariz dalam sambutannya pada Sidang Senat Terbuka Wisuda XII Unusia di TMII, Jakarta, Ahad (27/9/2026).
Selain dari sisi gender, inklusivitas Unusia juga terlihat dari latar belakang geografis para wisudawan. Fariz menyebut terdapat mahasiswa yang berasal dari wilayah yang jauh dari Jakarta, termasuk Merauke.
"Ini komitmen kami bahwa kami melakukan pelayanan pendidikan, amanat dari PBNU untuk melayani semua. Semua yang ingin bergabung dan mengukir masa depan melalui Unusia," ujarnya.
Dari enam fakultas, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan menjadi penyumbang wisudawan terbanyak dengan 134 mahasiswa. Selanjutnya Fakultas Ilmu Sosial sebanyak 62 wisudawan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebanyak 61 mahasiswa, Fakultas Hukum 57 mahasiswa, Fakultas Islam Nusantara 56 mahasiswa, serta Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer sebanyak 34 mahasiswa.
Dari sisi jenjang pendidikan, wisudawan berasal dari program pendidikan yang mencakup sarjana, magister, dan doktoral.
Fariz mengatakan perkembangan Unusia tidak semata-mata dilihat dari pertumbuhan jumlah mahasiswa dan lulusan. Menurut dia, capaian tersebut juga menjadi indikator penguatan Unusia sebagai perguruan tinggi yang serius dalam kajian sains dan keislaman.
"Ini patut kita catat sebagai indikator bahwa Unusia bukan hanya berkembang secara kuantitas, tapi lebih dari itu mengukuhkan diri sebagai kajian sains, keislaman yang serius dan berkomitmen pada perkembangan ilmu pengetahuan secara kualitatif," katanya.
Ia juga menyoroti sejumlah prestasi mahasiswa Unusia. Salah satunya mahasiswa yang meraih IPK 3,97 sekaligus menjadi juara olimpiade bahasa Inggris tingkat internasional.
Prestasi lainnya datang dari bidang hukum dan ketatanegaraan melalui kompetisi debat serta keterlibatan mahasiswa dalam pengajuan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Di bidang olahraga, mahasiswa Unusia juga meraih prestasi pencak silat pada tingkat nasional dan regional.
"Data-data bukan hanya angka, tapi cerminan komitmen bermutu pada kualitas pendidikan di Unusia," kata Fariz.
Fariz berpesan agar para lulusan tidak berhenti pada pencapaian akademik. Ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Unusia, kata dia, harus digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga mengingatkan para lulusan untuk tetap memegang nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan ke-NU-an yang telah dipelajari selama berada di kampus.
"Jangan pernah melepaskan jangkar Islam Aswaja. Di kampus diajar ke-NU-an, menginternalisasi nilai-nilai ke-NU-an. Jadikan ini sebagai everyday life, kultur, ritual yang tidak kita tinggalkan yang tercermin dalam perilaku kita," ujarnya.