Obituari

Innalillahi, Ketua Pertama Lakpesdam NU Abdullah Syarwani Meninggal Dunia

Senin, 2 November 2026 | 16:00 WIB

Innalillahi, Ketua Pertama Lakpesdam NU Abdullah Syarwani Meninggal Dunia

H Abdullah Syarwani. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube TVNU)

Jakarta, NU Online 

 

Kabar duka datang dari Nahdlatul Ulama (NU). H Abdullah Syarwani, tokoh yang pernah memimpin Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU sebagai ketua pertama, meninggal pada Senin, (2/11/2026), pukul 03.38 WIB.

 

“Turut berduka cita yang mendalam atas berpulangnya Bapak H Abdullah Syarwani Duta Besar Lebanon periode 2003-2007, Pengurus DKM Al-fauzien, Pesona Depok,” demikian pesan berantai yang diterima NU Online.

 

Dalam pesan tersebut, almarhum juga disebut pernah menjabat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Lebanon periode 2003–2007 serta menjadi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Fauzien, Pesona Depok.

 

Abdullah Syarwani tercatat memiliki peran penting dalam perjalanan awal Lakpesdam NU. Pada 6 April 1985, lembaga tersebut memperoleh surat keputusan sebagai Lajnah Kajian Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan Abdullah Syarwani sebagai ketuanya. Penunjukan itu menjadikannya orang pertama yang memimpin lembaga tersebut. Ia kemudian menjabat Ketua Lakpesdam PBNU pertama pada masa khidmah 1985-1988.

 

Pada masa awal pembentukannya, Lakpesdam berstatus sebagai lajnah yang bertugas menangani sejumlah pekerjaan khusus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), terutama yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Keberadaan lembaga ini menjadi bagian dari upaya NU memperkuat kapasitas warga dan mengembangkan peran organisasi dalam kehidupan masyarakat.

 

Sebelum memimpin Lakpesdam, Syarwani juga terlibat dalam pendirian Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M). Organisasi non-pemerintah tersebut didirikan pada 18 Mei 1983 oleh sejumlah tokoh dan pengasuh pesantren. P3M dibentuk untuk mengoptimalkan peran pesantren dalam menjawab persoalan sosial sekaligus mendorong pengembangan masyarakat.

 

Gagasan pendirian P3M berangkat dari pandangan bahwa pesantren memiliki akar sosial yang kuat, terutama di kalangan masyarakat lapisan bawah dan pedesaan. Melalui lembaga ini, para pendiri ingin menjembatani kesenjangan kultural maupun struktural antara kalangan santri dan masyarakat luas.

 

P3M juga menjadi wadah bagi para kiai, pengasuh pesantren, serta pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan masyarakat. Pesantren tidak hanya dipandang sebagai institusi pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan dan pembangunan sumber daya manusia, khususnya di wilayah pedesaan.

 

Selain kiprahnya dalam pengembangan pesantren dan kelembagaan NU, Syarwani tercatat pernah mengemban tugas diplomatik sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon pada 2003–2007. Penugasan tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan pengabdiannya di tingkat nasional dan internasional.