Gen Z dan Agama: Kebangkitan Iman atau Sekadar Tren Kultural?
Jumat, 10 April 2026 | 11:10 WIB
Fenomena kembalinya sebagian Generasi Z kepada agama dalam beberapa tahun terakhir tampak seperti paradoks. Di satu sisi, dunia semakin sekuler, rasional, dan terdigitalisasi. Namun di sisi lain, muncul kecenderungan baru: anak muda mulai kembali melirik agama—baik dalam konteks Katolik di Amerika Serikat maupun Islam di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Laporan The Washington Post (2026) mencatat meningkatnya minat sebagian Gen Z—terutama laki-laki—terhadap Katolik. Ketertarikan ini tidak selalu berbasis doktrin, melainkan sering kali dipicu oleh pencarian makna, disiplin hidup, dan bahkan estetika religius yang dianggap “otentik”. Namun demikian, data dari Pew Research Center menunjukkan bahwa secara umum Gen Z tetap merupakan generasi dengan tingkat afiliasi keagamaan terendah di Barat. Artinya, fenomena ini tidak bersifat massal, melainkan terbatas pada kelompok-kelompok tertentu yang mencari alternatif di tengah kejenuhan modernitas.
Dalam konteks Islam, gambarnya tampak lebih “stabil”, tetapi tetap menunjukkan pola yang serupa. Penelitian dari UIN Sunan Kalijaga menunjukkan bahwa tingkat religiusitas Gen Z Muslim di Indonesia relatif tinggi, terutama dalam praktik ibadah dan identifikasi keagamaan. Di Inggris, survei yang dilaporkan British Muslim Magazine menemukan bahwa sekitar 90 persen Gen Z Muslim rutin berdoa dan sebagian besar masih memiliki keterikatan dengan komunitas masjid. Sementara itu, laporan global Pew Research Center menegaskan bahwa Islam merupakan agama dengan pertumbuhan tercepat secara demografis di dunia.
Namun, penting dicatat bahwa angka-angka tersebut tidak otomatis menunjukkan kebangkitan iman dalam arti teologis klasik. Justru, jika dibaca lebih dalam, fenomena ini mencerminkan sesuatu yang lebih subtil: agama sedang mengalami transformasi fungsi. Generasi Z tidak semata-mata “kembali” kepada agama, tetapi menggunakan agama sebagai alat untuk menjawab krisis eksistensial yang mereka hadapi—mulai dari kecemasan digital, tekanan sosial, hingga ketidakpastian masa depan.
Dalam hal ini, fenomena religiusitas Gen Z lebih tepat dipahami sebagai mikro-tren kultural (micro-trend religious turn), bukan gelombang kebangkitan besar. Ia bersifat fragmentatif, muncul dalam komunitas-komunitas kecil, dan sangat dipengaruhi oleh konteks digital serta dinamika identitas.
Untuk memahami perubahan ini tanpa terjebak dalam kerumitan teoritis, dua perspektif filosofis dapat membantu menjelaskan arah pergeseran tersebut.
Pertama, gagasan Jürgen Habermas tentang post-secular society. Habermas berargumen bahwa modernitas tidak menghapus agama, tetapi mengubah cara agama hadir dalam ruang publik. Dalam masyarakat post-sekuler, agama tidak lagi dominan, tetapi tetap relevan sebagai sumber makna yang berdampingan dengan rasionalitas. Apa yang dilakukan Gen Z mencerminkan kondisi ini: mereka tidak mewarisi agama secara pasif, tetapi memilihnya secara reflektif sebagai salah satu cara memahami dunia yang kompleks.
Kedua, konsep Michel Foucault tentang technologies of the self. Dalam perspektif ini, agama dapat dipahami sebagai praktik untuk membentuk diri—melalui disiplin, kontrol diri, dan refleksi etis. Ini menjelaskan mengapa religiusitas Gen Z sering berjalan paralel dengan tren self-improvement: dari gaya hidup sehat, praktik mindfulness, hingga upaya mengurangi ketergantungan pada media sosial. Agama, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi sistem keyakinan, tetapi juga alat untuk mengelola diri di tengah tekanan modernitas.
Perubahan ini semakin terlihat jelas melalui peran media sosial. Agama kini tidak hanya hadir di mimbar atau ruang ibadah, tetapi juga di TikTok, Instagram, dan YouTube. Konten dakwah, refleksi spiritual, hingga estetika religius dikemas dalam format yang singkat, visual, dan mudah dibagikan. Fenomena ini melahirkan figur-figur baru—dari “theo-bros” dalam Katolik hingga influencer hijrah dalam Islam—yang menjadikan agama sebagai bagian dari identitas digital.
Di titik ini, agama mengalami apa yang bisa disebut sebagai “platformisasi”: ia tidak lagi semata-mata menjadi institusi, tetapi juga menjadi konten yang beredar dalam logika algoritma. Akibatnya, batas antara iman, identitas, dan gaya hidup menjadi semakin kabur. Menjadi religius tidak hanya berarti percaya, tetapi juga tampil, berbagi, dan terhubung dengan komunitas yang sejalan.
Menariknya, fenomena ini juga memiliki dimensi gender. Sejumlah laporan menunjukkan bahwa laki-laki Gen Z cenderung tertarik pada bentuk religiusitas yang menekankan disiplin, struktur, dan kontrol diri. Dalam konteks ini, agama berfungsi sebagai sarana untuk membangun kembali identitas maskulinitas di tengah perubahan norma sosial yang cepat. Sementara itu, perempuan Gen Z sering kali mengartikulasikan religiusitas dalam bentuk yang lebih ekspresif, komunitarian, dan berbasis pengalaman personal.
Meski demikian, penting untuk tidak terjebak dalam euforia analisis. Tidak ada bukti kuat bahwa institusi agama secara global sedang mengalami lonjakan signifikan dalam jangka panjang. Banyak Gen Z tetap menjauh dari agama, atau memilih bentuk spiritualitas yang lebih cair dan tidak terikat institusi. Hal ini menunjukkan bahwa yang sedang terjadi bukanlah kebangkitan agama dalam arti klasik, melainkan diversifikasi cara beragama.
Dengan demikian, fenomena religiusitas Gen Z—baik dalam Katolik maupun Islam—lebih tepat dipahami sebagai refleksi dari kebutuhan generasi ini akan makna, stabilitas, dan arah hidup. Agama menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk menjawab kebutuhan tersebut, berdampingan dengan berbagai alternatif lain dalam lanskap modernitas.
Pada akhirnya, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah apakah Gen Z kembali religius, tetapi bagaimana mereka mendefinisikan ulang agama itu sendiri di era digital. Sebab, bisa jadi yang sedang kita saksikan bukanlah kebangkitan iman dalam pengertian lama, melainkan lahirnya cara beriman yang sepenuhnya baru.
Cara beriman yang tidak lagi semata-mata diwariskan, tetapi dipilih. Tidak hanya diyakini, tetapi juga dinegosiasikan. Dan tidak sekadar dijalankan, tetapi juga ditampilkan dalam ruang publik yang semakin terhubung.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, agama bagi Gen Z mungkin bukan lagi jawaban final—melainkan salah satu cara paling masuk akal untuk tetap bertahan.
Eko Ernada, Wakil Rektor UNU Kalimantan Timur