Risalah Redaksi

Menghadapi Ancaman Perlu Pengorbanan

Sabtu, 31 Januari 2004 | 05:18 WIB

Belakangan ini masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman dari luar yang sangat serius, sehingga harus menghadapinya dengan sungguh-sungguh, Pertama ancaman yang datang dari luar yaitu terjangkitnya wabah sapi gila, padahal kita mendatangkan berton-ton daging sapi dari luar negeri. Ketika persoalan itu belum teratasi tiba tiba sudah mengalami serangan flu burung yang menyerang habis industri peternakan ayam, bahkan lebih ganas dari penyakit sampar yang selama ini dikenal masyarakat.

 

<>

Tetapi anehnya semua wabah yang mematikan itu ditangani dengan setengah hati, dalam penyelelidikan masih banyak daging impor yang harusnya dimusnahkan masih dijual di toko, malahan puluhan kontainer yang berisi daging  yang selama ini ditahan di pelabuhan dibiarkan masuk seolah telah bebas dari infeksi. Hanya dengan kemampuan lobi para importir dan negara pengekspor birokrasi kita bisa ditembus walaupun dengan risiko sangat membahayakan keselamatan rakyat. Demikian virus yang mematikan itu telah lama menyerang tetapi tidak diakui keberadaannya, akhirnya rakyat terpaksa menangani permasalahannya sendiri tanpa bantuan pemerintah.

 

Pemerintah selalu menghindar dari masalah dengan cara mengabaikan kalau perlu ditutupi, belakangan adanya isu Ninja di beberapa tempat diabaikan, bahkan terjadinya kasus kolor hijau yang meresahkan masyarakat dianggap hanya sebagai isu sementara keberadaannya tidak pernah diselidiki atau dituntaskan persoalannya. Kalau ada informasi diabaikan, kalau informasi sudah lenyap dianggap masyarakat mengada-ada, bahkan tragisnya korban dijadikan tersangka, sehingga korban yang lain tidak berani melapor, dan ketika tidak ada laporan maka dianggap persoalan tidak ada, akhirnya kembali lagi rakyat harus mengurus dirinya sendiri.

 

Cara penanganan masalah yang manipulatif, menyembunyikan semacam itu hanya akan melahirkan bom waktu, masalah akan terus menumpuk dan akhirnya akan terjadi eksplosi, sehingag suasana tidak akan terkendali Sering terjadi dijalanan ketika hujan lebat polisi pada pergi, sementara lampu lalulintas mati, akhirnya kemacetan lalu lintas terjadi di mana-mana, akhirnya yang turun mengatasi rakyat sendiri, tetapi oleh orang yang tidak bertanggung jawab suasana seperti itu dipertahankan untuk mencari kekayaan, akhirnya tumbuhlah premanisme atau banditisme di jalanan, yang sangat merugikan kepentingan rakyat.

 

Cara berpikir yang egoistis dan elitis tanpa memperhatikan hak-hak warga negara, mengakibatkan  terjadinya kekacauan dan ketidakpastian hukum, hukum dan aparat keamanan hanya melayani kelompok elite. Ini terjadi karena seluruh kehidupan sudah dimaterialisasikan, baik politik, keilmuan termasuk keagamaan, sehingga tidak ada kesetiakawanan, kepercayaan dan ketulusan. Tidak ada lagi  pelayanan atau pengabdian kepada rakyat  atau negara, hubungan rakyat dengan negara dan hubungan antar warga negara menjadi materialistis dan kontraktual, akibatnya cita-cita membangun bangsa, memajukan masyarakat menjadi terhenti.

: Puji Utomo


Terkait