Warta

Alissa Wahid Jelaskan Prinsip Utama Gus Dur

Ahad, 15 Januari 2012 | 08:24 WIB

Ciputat, NU Online
Prinsip utama yang selalu dijalankan KH Abdurahman Wahid, Ketua Umum PBNU 1984-1999 adalah Islam rahmatan lil alamin.

“Islam rahmatan lil alamin, itulah yang menjadi prinsip utama Gus Dur bergerak. Itulah yang dilihat paling jelas oleh murid-murid dan sahabat-sahabatnya,” ungkap Alissa Wahid.
<>
Hal itu dijelaskan putri sulung Gus Dur di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang. Dia didaulat jadi pembicara pada acara bertajuk Semalam Bersama Gus Dur pada Jumat malam, (13/1).

Acara tersebut dalam rangka haul kedua Gus Dur, diselenggarakan berbagai organisasi mahasiswa, forum studi, dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UIN.

Dalam kesempatan itu, Alissa menjelaskan prinsip-prinsip utama Gus Dur. Selain Islam rahmatan lil ‘alamin, prinsip Gus Dur adalah kemanusiaan. Karena itulah satu permintaan Gus Dur sebelum wafat, di nisannya ingin dituliskan: Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan.

“Seperti yang kita tahu, permintaan beliau sebelum wafat, beliau hanya ingin satu tulisan sederhana saja di nisannya, ‘Di sini berbaring seorang pejuang kemanusiaan’,” lanjutnya.

Prinsip berikutnya, lanjut Alissa, Gus Dur bersikap adil pada siapa pun. Lalu prinsip persaudaraan. Berjuang betul-betul untuk kemanusiaan. Gus Dur juga orang yang kokoh berdiri di atas tradisi.

“Beliau seorang yang kosmopolitan. Beliau suka sekali berinteraksi dengan dunia internasional. Tapi beliau tidak pernah lepas dari identitas: dari Jombang, dari pondok, dari santri. Dia tidak pernah melepaskan itu,” tegasnya. 

“Dari prinsip-prinsip itu, Gus Dur jadi teladan banyak orang, bahkan mampu menggerakkan orang-orang yang tak pernah bertemu langsung dengannya,” imbuhnya.

Hadir pada kesempatan itu, Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid dan sahabat-sahabat Gus Dur, diantaranya Bondan Gunawan, Adhi Massardi, dan AS. Laksana.

Acara tersebut dimeriahkan pembacaan puisi Hendri Yetus Suswono, penampilan penynayi Ivan Nestorman dan ditutup pagelaran Wayang Kampung Sebelah dibawakan Ki Jlitheng Suparman dengan lakon Tragedi Jual Beli Mimpi.

Acara dimulai selepas maghrib ini dibuka dengan pembacaan tahlil oleh KH Nuril Huda dan doa oleh KH Chotibul Umam, Guru Besar UIN Jakarta dan Syuriyah PBNU.


Redaktur: Mukafi Niam
Penulis    : Abdullah Alawi


Terkait