Jakarta, NU.Online
Selama bertahun tahun, Islam di Indonesia tidak pernah memiliki media massa besar dan berpengaruh. Selama ini, untuk menyebarkan pemahaman keagamaan yang moderat, para pemimpin organisasi Islam terbesar seperti NU dan Muhammadiyah lebih cenderung “menempel” di media yang sudah mapan. Akibatnya, penetrasi pemahaman yang ditargetkan tidak dapat sepenuhnya mengenai sasaran.
Demikian dijelaskan oleh pakar Islamologi dari Belanda Martin van Bruinessen dalam pembahasan komisi III International Conference of Islamic Scholars (ICIS ), Senin (23/02). Dalam komisi ini dibahas soal “ Islam, Information and Media”.
<>Dalam penelitian professor yang sudah menghasilkan beberapa buku tentang NU ini, kehadiran kelompok Islam eksklusive (fundamentalis, literalis) di Indonesia selama 35 tahun terakhir terbukti sangat pesat hanya dengan media tradisional nan sederhana.
“Mereka mendirikan outlet buku di sekitar kampus, menerbitkan buku saku, selebaran di masjid pada hari Jum’at dan sering melakukan acara seremonial keagamaan yang diikuti oleh banyak kaum muda,”jelassnya.
Sementara itu, Islam inclusive yang selama beberapa tahun terakhir mendapat tempat di media-media besar di Indonesia, justru kurang terasa menukik dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat luas. Baru setelah sejumlah kelompok anak muda NU di Yogyakarta yang tergabung dalam LkiS menyentak dengan terbitan buku-bukunya, Islam inclusive seolah hadir kembali.
“Langkah yang ditempuh LKiS teresebut kemudian dikuti oleh anak muda NU yang berkumpul di Jakarta. Mereka kebanyakan berbasis intelektual kampus LSM dengan membentuj Jaringan Islam Liberal,”lanjut Martin.
Kelompok yang tersebut terakhir bahkan lebih agresif mengembangkan gagasnnya melalui internet (milist, home page) dan talk show di radio dan televise dan diskusi di hotel-hotel. Cara demikian, lanjut Martin, dinilai lebih menjanjikan dan banyak diikuti. Pendek kata, mereka menyebarkan Islam inclusive dari kaki lima hingga hotel bintang lima.(MA)