Jakarta, NU Online
Di Nusantara ini banyak sekali kerajaan, agama dan kepercayaan. Walisongo masuk tanpa menumpahkan darah setetes pun. “Kami meneruskan metode dakwah Walisongo. Ini yang kami pertahankan,” jelas Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada Rasid Husen, perwakilan Amerika Serikat untuk OKI yang tengah mengunjungi kantor PBNU, Selasa sore (21/2).
Walisongo berdakwah dengan pendekatan kultural. Apresiasi Walisongo terhadap budaya lokal, menarik simpati masyarakat. “Agama takkan langgeng tanpa menyatu dengan budaya,” ungkap Kang Said bersambut anggukan tamunya.
<>
Walisongo menyebarkan nilai Islam melalui pesantren. Bukan hanya tanpa kekerasan, mereka pun turut melestarikan seni dan budaya masyarakat lokal.
Kang Said, panggilan akrab Ketua Umum PBNU, menunjuk ke lambang NU yang terpasang di dinding ruang kerjanya. Mengapa dalam lambang NU terdapat sembilan bintang? Pertanyaan ini segera ia jawab sendiri. Karena NU meneruskan dakwah Walisongo. Sembilan wali dahulu mengislamkan Indonesia tanpa kekerasan dan peperangan,” tambahnya.
NU sebagai pewaris Walisongo, tidak pernah menggeser dan meminggirkan budaya lokal. NU selalu moderat dan toleran terhadap budaya setempat. Karena bagi NU, budaya itu sendiri adalah jati diri masyarakat. Tanpa NU, masyarakat Indonesia akan kehilangan jati dirinya, terang Kang Said kepada tamunya terkait sembilan bintang dalam lambang NU.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis : Alhafiz Kurniawan