Warta

Lahar Dingin Merapi bikin Rakyat Makmur

Selasa, 28 Desember 2010 | 08:57 WIB

Magelang, NU Online
Suran Tegalrejo bertajuk Jamasan Alam merupakan even tahunan setiap bulan Muharram dengan pentas kebudayaan rakyat menampilkan beragam kesenian tradisional lokal yang unik diselenggarakan Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.

Acara yang digagas oleh Gus Yusuf, pengasuhnya, ini menjadi media hiburan sekaligus refleksi kritis atas fenomena alam yang berkembang mutakhir di wilayah Magelang dan sekitarnya.<>

Ketika dua minggu terakhir perbincangan rakyat seputar isu lahar dingin --fenomena alam setelah gunung meletus-- tak pelak lahar dingin menjadi pembahasan hangat dalam Jamasan Alam.

Dalam pidato kebudayaan yang dihadiri putri Gus Dur, Alissa Qatrunnada Wahid, Presiden Lima Gunung Sutanto Mendut berbicara berapi-api soal lahar dingin Merapi.

Dikatakan, material lahar dingin sesungguhnya merupakan berkah yang sangat berharga bagi kehidupan rakyat di lereng Merapi. Sehingga sungguh-sungguh tidak beralasan bila ada orang yang mengabarkan Merapi bikin bencana bagi rakyat.

“Saya pernah berpidato di depan para pengungsi saat Merapi mengeluarkan hujan abu yang sangat deras. Saya tanya: ‘Mbah, Pak, Bu, Dik, saene Merapi njeblug nopo mendel mawon? (sebaiknya Merapi meletus atau diam saja?)’ Mereka sontak bareng menjawab: ‘nJebluuuug...’ Ini artinya rakyat sadar bahwa Merapi memang harus njeblug. Kalau tidak njeblug malah jadi penyakit. Bikin hidup lebih susah,” kata Sutanto.

Dikatakan, setelah Merapi meletus, dua minggu terakhir ini banyak kejadian sungai-sungai di kawasan lereng Merapi dipenuhi aliran lahar dingin. Ini momentum pembersihan lingkungan.

“Sebab racun-racun, pestisida, plastik, sampah, dan obat-obatan kimiawi pertanian yang merusak tanah jadi bersi. Ini juga berkah. Coba bayangkan, bila tidak ada lahar dingin, negara harus mengeluarkan duit triliyunan rupiah membersihkan lereng Merapi dari racun-racun yang kadung ditebar puluhan tahun,” katanya.

Katanya, lahar dingin jadi berkah bagi pertanian dan kehidupan kita, tanah kembali subur, bikin rakyat makmur.

"Tidak perlu takut Merapi. Inilah rahmatan lil alamien yang ditunjukkan Allah kepada mahluk-Nya. Kita patut bersyukur. Allahumma amien....", kata Sutanto berapi-api di panggung "Jamasan Alam" Ponpes API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, Jumat (24.12.2010).

Makanya, Jamasan Alam ini bagi kita untuk belajar kepada alam. Terutama bagi para pejabat. Sebab di antara warga yang paling sibuk menyikapi Merapi ya pejabat. Tapi pejabat sendiri paling bikin kacau karena koordinasinya antar mereka tidak sinkron.

"Tapi ya tidak apa-apa. Ora popo. Wong kita sama-sama belajar," kata Sutanto yang aktif mengelola akun ‘Gemak Mendut’ di social network Facebook.

Dalam pidato kebudayaan Jamasan Alam itu Sutanto juga mengingatkan agar kita lebih cerdas menangkap tanda-tanda alam.

“Di koran nasional kemarin ada berita "ekonomi Merapi akan lumpuh". Ini berita menakut-nakuti saja. Padahal kalau toh ekonomi mati, kan hanya pertaniannya saja. Kita masih punya jutaan kubik pasir dan batu yang lebih bernilai tinggi. Pasir dan batu bisa bikin rakyat lebih makmur,” katanya.

Gus Yusuf, Pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang, mengatakan, dengan adanya beragam fenomena alam kita mesti lebih arif dalam mengoreksi diri agar kita mampu berdamai dengan alam dan sesama mahluk Allah.

“Karena itu niat awal kita menggelar Suran Tegalrejo Jamasan Alam di malam hari ini. Atasnama shohibul bait kami turut berbahagia dan mengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan hadir di sini meski diundang hanya lewat SMS," kata Gus Yusuf. (kra)


Terkait