Pakar UI: Panas Ekstrem Jadi Ancaman Kesehatan Masyarakat
NU Online · Jumat, 10 Juli 2026 | 23:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Meningkatnya suhu udara tidak lagi sekadar menghadirkan rasa gerah, tetapi mulai menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Dalam waktu kurang dari dua pekan pada Juni 2026, dua orang meninggal dunia setelah diduga mengalami heatstroke. Korban pertama merupakan peserta ajang lari maraton, sedangkan korban lainnya adalah peserta Pelatihan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
Pakar Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof Herawati Sudoyo mengatakan, dua kematian dalam kurun waktu kurang dari dua pekan tersebut menjadi peringatan bahwa Indonesia perlu segera memandang paparan panas sebagai isu kesehatan publik yang membutuhkan edukasi, sistem peringatan dini, serta kesiapsiagaan lintas sektor.
"Kita tidak dapat menghentikan cuaca yang semakin panas, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Literasi kesehatan adalah perlindungan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa bagi setiap keluarga," ujarnya dalam Webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino pada Kamis (9/7/2026).
Herawati menjelaskan bahwa heat stress merupakan kondisi ketika tubuh mulai kesulitan membuang panas akibat kombinasi suhu lingkungan, kelembapan udara, paparan sinar matahari, maupun aktivitas fisik.
“Apabila tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heat exhaustion hingga heatstroke, yaitu keadaan darurat medis ketika suhu inti tubuh meningkat drastis dan mulai merusak organ-organ vital. Tanpa penanganan cepat, heatstroke dapat menyebabkan kegagalan organ hingga kematian,” katanya.
Ia menegaskan bahwa paparan panas ekstrem tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan cuaca. Menurutnya, saat suhu lingkungan meningkat, tubuh akan bekerja lebih keras mempertahankan suhu normal melalui pelebaran pembuluh darah dan penguapan keringat. Namun, ketika mekanisme tersebut tidak lagi mampu mendinginkan tubuh, seseorang dapat mengalami heat stress hingga heatstroke yang mengancam jiwa.
“Panas ekstrem bukan lagi sekadar persoalan cuaca, melainkan isu kesehatan masyarakat. Dampaknya dapat dicegah apabila kita mengenali risikonya, melindungi kelompok rentan, dan membangun kesiapsiagaan sejak dini,” ucapnya.
Dampak panas ekstrem juga tidak berhenti pada kesehatan fisik. Herawati menyampaikan bahwa paparan suhu tinggi dapat menurunkan konsentrasi, mengganggu kualitas tidur, memicu kebingungan, penurunan kesadaran, hingga koma pada fase akut.
Ia menambahkan, dalam jangka panjang, penyintas heatstroke berisiko mengalami gangguan memori, penurunan konsentrasi, gangguan fungsi eksekutif, bahkan kerusakan otak permanen akibat hipoksia dan inflamasi sistemik.
“Panas ekstrem telah menjadi salah satu penyebab utama kematian yang berkaitan dengan cuaca, sehingga memerlukan perhatian serius dari sektor kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan,” pungkas Herawati.
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua