Selasa (30/11), sekitar pukul 16.15 CLT, Agenda reguler DPP-PPMI yang berkomitmen membangkitkan geliat intelektual Masisir mempertemukan kelompok-kelompok kajian yang ada di Mesir dalam satu forum di Pesanggrahan KPMJB (Kekeluargaan Peguyuban Mahasiswa Jawa Barat).
Agenda yang bertajuk Halâqah Dauriyah, kali ini mengangkat tema: Membincang Politik Islam; Tinjauan Komparatif Politik Islam Timur Tengah dengan Barat, serta Analisa Konsep.<>
Dialog ini menghadirkan tiga presentator dari tiga kajian yang berbeda; Owen Putra, Lc. (SINAI), Ahmad Sadzali (NUN Center). Sedang dari Lakpesdam NU Mesir diwakili oleh Abdul Mun’im Khalil, peminat sekaligus analis kajian politik Islam.
Selepas Maghrib, dialog dimulai dengan Owen Putra, Lc. sebagai presentator pertama. Dia mengangkat tema realitas Palestina. Dalam makalah yang berjudul; ‘Proyek Israel 2020, Akankah al-Quds Lenyap?’, dia memaparkan bagaimana penderitaan yang dialami rakyat Palestina yang semakin terpojokan di ujung realitas.
Dalam pembacaannya, gerakan-gerakan ambisius Zionis yang tertuang dalam mega proyek al-Quds 2020 mengerucut pada proses Yahudisasi Palestina dalam rangka penguasaan bumi Palestina seluruhnya.
Untuk mendukung analisanya, Putra memaparkan beberapa data-fakta lapangan terkait hal tersebut. Gerakan Yahudisasi ini diawali dari penekanan populasi rakyat Palestina pada titik terendah dengan menghadirkan suasana konflik dan kebohongan-kebohongan konspiratif, ideologis hingga klaim yang menyatakan bahwa bumi Palestina sejatinya telah dijual kepada Zionis, sehingga mereka tidak berhak memintanya kembali.
Pada akhirnya, Owen menyatakan bahwa klaim Yahudi atas Palestina merupakan kesalahan, karena sejatinya tanah itu merupakan hasil dari futûhât Islâmiyah.
Presentator kedua, Ahmad Sadzali, membidik tema Fasisme dan kaitannya dengan agama yang tertuang dalam makalah yang berjudul: ‘Prespektif Kaum Fasis Terhadap Agama dan Implementasinya; Studi Kasus Fasisme di Jerman dan Italia’.
Aspek historisitas peradaban Barat coba dihadirkan presentrator dalam awal pembicaraannya, dimana Barat merupakan peradaban yang mengadopsi sisi materialisme filsafat Yunani dan Romawi. Maka tak ayal, filsafat yang berkembang di Barat cenderung menolak aspek metafisis dalam kesadaran manusia. Salah-satu dampak yang hadir dalam rentetan sejarah adalah ideologi fasisme.
Catatan sejarah membincang bahwa fasisme merupakan korpus ideologi yang terbilang sadis dan berbahaya yang tercermin pada kekejaman Nazi di Jerman saat Perang Dunia II. Fasisme dijadikan pijakan ideologis-politis oleh –semisal- Mussolini untuk meraih kekuasaan.
Dengan menganalisa kilas balik teoritis, Sadzali melihat ada keterkaitan paradigmatik antara fasisme dengan tokoh nihilisme Barat, Friedrich Nietzche, yang notabene bisa diasumsikan sebagai –salah satu- konseptor ideologi fasisme.
Di akhir analisa, Sadzali melihat fasisme sebagai ideologi yang anti-semit, sehingga akan menghadirkan peradaban manusia yang timpang. Disamping itu, agama sejatinya harus menggandeng politik untuk menyebarkan dakwahnya, agar tidak terjerumus ke lubang yang sama, fasisme.
Sebagai presentator terakhir, Abdul Mun`im Kholil mencoba menganalisa akar genealogis nalar politik Islam. Dalam makalahnya yang berjudul: ‘Nalar Islam Politik; Tinjauan Genealogis Historis’, Mun`im memilah terlebih dahulu antara ‘Islam politis’ dengan ‘Islam Idealis’, sehingga seseorang bisa dengan jeli mendedah ‘Islam cita-cita’ dan ‘Islam sejarah’ agar bisa menemukan fungsinya secara nyata.
Pembacaan ini menjadi penting, mengingat metode pendekatan Islam terhadap sistem politik cenderung rigid. Generasi muslim seolah kesulitan menemukan inter-relasi antara agama dan negara, sehingga beberapa kelompok memandang bahwa khilafah adalah sebuah keniscayaan an sich.
Bagi Mun`im, nalar politik selalu berpijak pada sikap pragmatisme, dimana acap kali menyembunyikan kepentingan yang sangat berpotensi menghadirkan problematika akut. Dengan meminjam teori alam bawah sadar Freud, rekan Mun`im melihat bahwa peradaban Arab sangat kuat dihegemoni nalar politik sebagai sebuah kesadaran laten.
Dalam hal ini, kalangan borjuis Arab tergolong bangsa yang rasial. Hal ini ditandai dengan sejarah pertikaian intra-kabilah untuk mengukuhkan eksistensi kuasanya. Dibalik kesahajaan yang dihadirkan Islam, terpendam nalar laten tribalistik, materialistik hingga ideologis-politis.
Presentasinya diakhiri dengan statement, bahwa banyak fakta historis yang acap kali tak terkuak secara proporsional. Untuk itu, diperlukan pembacaan yang jitu agar generasi muslim kontemporer mampu menyaksikan secara imajiner akan idealisme Islam, sebagai agama yang memiliki nilai etis universal yang bebas dari kepentingan kelompok tertentu. Karena bagaimanapun juga, ketika agama terlembagakan dan didompleng kepentingan politik, agama akan hilang tergerus masa, sebagaimana yang terjadi pada agama Zoroaster dan sekte Muktazilah.
Acara yang –terbilang- berlangsung menarik cukup menghadirkan paradigma-paradigma yang berbeda dari ketiga presentator. Persinggungan pendapat menjadi tak terhindarkan, terutama saat sesi dialog. Tapi selama dua setengah jam dialog, acara yang diprakarsdai PPMI ini berlangsung kondusif. (mad)