Jakarta, NU Online
Pendidikan di negeri ini jarang yang memfokuskan diri pada sumber daya yang telah dimiliki. Umumnya, lembaga pendidikan cenderung tertarik pada budaya populer meski lebih banyak menguntungkan industri asing daripada fokus di sektor peternakan, kelautan, dan pertanian. Pendidikan NU jika mau kuat harus proaktif memberdayakan sektor pertanian yang menjadi basis mata pencaharian umat Nahdliyin.
<>
Hal ini disampaikan pengamat pendidikan Darmaningtiyas saat menyampaikan materi dalam Seminar Nasional ‘Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Inovasi Teknologi Pendidikan’ yang diselenggarakan PP Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Jakarta, Rabu (2/3).
Darmaningtias menjelaskan bahwa NU mempunyai pengalaman historis tentang usaha ini. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah secara sengaja bekerjasama dengan Bank Summa untuk mengembangkan masyarakat di bidang pertanian. Bersama Bank yang pimpin Edward Soeryadjaya ini Gus Dur mendirikan BPR Nusumma untuk pemberdayaan masyarakat bawah.
“Dari hasil penelitian, angkatan kerja kita 40 persen merupakan petani,” jelasnya.
Menurut dia, Perkembangkan teknologi, seperti internet, yang demikian pesat membuat masyarakat Indonesia turut beralih kecenderungan, termasuk dalamhal pendidikan. Di satu pihak, hal ini membantu kemudahan komunikasi dan informasi yang signifikan. Namun di pihak lain, potensial menghilangkan kultur komunal yang menjadi jati diri bangsa.
“Teknologi di satu sisi baik, tapi di sisi yang lain dapat menghancurkan kemanusiaan dan kebudayaan,” tandasnya.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis : Mahbib Khoiron