Petinggi Partai Demokrat Jember yang juga mantan wakil bupati, Bagong Sutrisnadi, merasa dianaktirikan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama setempat. Rasa ini ini dipicu oleh pernyataan Ketua NU Jember, Abdullah Syamsul Arifin yang mengatakan, NU secara resmi akan mendukung dan mengusung kandidat bupati dan wakil bupati sendiri. Netralitas menjadi opsi terakhir organisasi ini.
Bagong lantas menelpon salah satu mantan sekretaris NU untuk berkeluh kesah. "Pak, saya ini punya Kartanu (Kartu Tanda Anggota NU) yang ditandatangani KH Sahal Mahfudz dan KH Hasyim Muzadi. Saya sebagai warga NU di Demokrat kok dianaktirikan," katanya menirukan kembali keluhannya kepada mantan tokoh NU itu.<>
Bagong lantas diyakinkan agar tak merasa dianaktirikan. Ia lantas memilih mendaftarkan diri dalam penjaringan calon di PKB. "PKB anak kandung NU. Mudah-mudahan diridoi Allah," katanya.
Bagong merasa optimistis bakal bisa melenggang dalam pencalonan bupati mendatang. Ia mengaku sudah mendapat dukungan resmi dari 35 pondok pesantren. Ia juga sudah melakukan pendekatan terhadap lembaga swadaya masyarakat maupun organisasi kemasyarakatan.
"Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia yang tersebar di 31 kecamatan juga sudah saya dekati. Ternyata pasar-pasar itu mengharapkan saya jadi bupati. Harapannya, kalau saya jadi bupati, pasar yang jelek segera dibangun," katanya.
Soal calon wakil bupati, Bagong mengatakan, ada tujuh nama. Ia sudah melakukan istikharah (salat minta petunjuk Tuhan) dan meminta petunjuk kepada sejumlah kiai yang dinilai memiliki keistimewaan spiritual. Ia berharap sekondannya adalah orang yang populer.
"(Dari jalur independen) saya sudah didukung 48-49 persen suara pemilih," katanya seperti dilansir beritajatim.com. (min)