Denpasar, NU Online
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengatakan, perbedaan agama atau kepercayaan jangan dijadikan alasan untuk berkonflik, melainkan harus saling menghormati untuk kemajuan bangsa.
"Bhinneka Tunggal Ika patut kita junjung tinggi, karena terbentuknya Bangsa Indonesia dari adanya pluralisme tersebut," kata Nasaruddin Umar di Sanur, Bali, Kamis malam.
<>
Pada acara Peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW 1433 H dan Hari Ulang Tahun Nahdlatul Ulama ke-86, ia menekankan pentingnya saling hormat menghormati antarumat maupun agama yang dianut oleh individu tersebut.
"Sesungguhnya kita adalah bersaudara dan satu dihadapan Tuhan. Namun cara melakukan sembahyang dan keyakinan yang berbeda," katanya.
Ia mengatakan, negara menjamin terhadap pemeluk agama di Indonesia, sekali pun penganutnya minoritas. Tidak ada intimidasi atau tekanan dalam menjalankan ibadahnya.
"Sebab kebebasan untuk memeluk agama dan kepercayaan telah dituangkan dalam Pembukaan UUD 1945. Karena itu umat Islam yang mayoritas umatnya berkewajiban memberikan perlindungan kepada umat lain," ujarnya.
Dikatakan, Islam di Indonesia mempunyai budaya dan tradisi tersendiri dibanding dengan negara-negara lain. Karena itu patut dilestarikan sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.
"Dengan keberagaman agama di Indonesia menjadikan kekuatan untuk bersatu membangun bangsa dan mewujudkan cita-cita bangsa itu sendiri, yakni masyarakat adil dan sejahtera," katanya.
Memang sangat disayangkan, kata dia, belakangan ini terjadi tindakan anarkisme di berbagai daerah dengan dalih agama.
"Padahal tindakan yang dilakukan oleh sekolompok atau organisasi masyarakat yang mengatasnamakan agama itu, jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama Islam," ujarnya.
Sebenarnya, kata dia, kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama adalah bertentangan dengan agama itu sendiri, sebab semua ajaran agama di dunia mengajarkan umatnya berbuat baik, saling menghormati dan menjunjung tinggi toleransi tersebut.
"Siapa pun berani melanggar ajaran agama dan berbuat kejahatan dengan sesama umat adalah perbuatan dosa," kata Nasaruddin.
Sementara Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Bali, H Mulyono Setiawan mengajak semua umat belajar melakukan toleransi beragama di Pulau Dewata.
"Kami mengajak semua umat belajar membina dan menjaga tolerasi beragama di Bali. Walau di Bali mayoritas memeluk agama Hindu, namun mereka tak ada mengabaikan umat yang minoritas. Karena itu sangat tepat untuk berkacamata soal toleransi umat beragama disini," katanya.
Karena toleransi beragama yang begitu kental, kata dia, wisatawan mancanegara merasa aman dan sangat senang berlibur di Pulau Dewata.
"Toleransi beragama serta didukung seni budaya yang adiluhung tersebut Bali semakin pesat dalam pengembangan sektor pariwisata. Untuk itu kami mengajak semua umat menghargai perbedaan kepercayaan itu. Karena perbedaan itulah menjadikan bangsa ini akan kuat dan maju," katanya.
Pada acara tersebut juga hadir tokoh-tokoh masyarakat, seperti Puri Pemecutan Ida Tjokorde Pemecutan, Puri Gerenceng Anak Agung Ngurah Agung serta tokoh masyarakat lainnya.
Redaktur: Mukafi Niam
Sumber : Antara