Abu MUDI Ingatkan Anak untuk Bahagiakan Orang Tua, Teladani Kesabaran Sahabat Nabi
NU Online · Rabu, 4 November 2026 | 17:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Syekh H Hasanoel Basri HG (Abu MUDI) mengingatkan pentingnya kesabaran dalam menghadapi musibah serta kewajiban anak untuk terus memperhatikan kebahagiaan orang tua, meskipun telah menikah dan memiliki keluarga sendiri.
Pesan tersebut disampaikan Abu MUDI dalam pengajian rutin Tasawuf, Tauhid, dan Fiqih (Tastafi), Rabu (4/11/2026), melalui kajian kitab Tuhfatul Muhtaj karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan Mau'izhah al-Mu'minin karya Syekh Muhammad Jamaluddin al-Qasimi.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) 2021-2026 itu menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan orang tua yang telah kehilangan pasangan hidup akibat meninggal dunia. Pengabdian anak, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga kebahagiaan dan ketenteraman batin orang tua.
"Anak yang telah berumah tangga tetap memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan kehidupan ayah atau ibunya, terutama ketika salah seorang dari mereka harus menjalani masa tua tanpa pendamping," ujarnya.
Salah satu bentuk perhatian tersebut, menurut Abu MUDI, adalah membantu mencarikan pasangan hidup bagi orang tua yang telah menjanda atau menduda apabila mereka menghendakinya. Upaya tersebut merupakan bagian dari kepedulian anak terhadap kebutuhan emosional dan kehidupan sosial orang tua.
Dalam pembahasan mengenai kesabaran, pendiri Tastafi tersebut juga mengangkat kisah keluarga sahabat Rasulullah saw, Abu Thalhah dan Ummu Sulaim, yang menghadapi musibah meninggalnya anak mereka.
Kisah yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Imam Muslim itu menggambarkan keteguhan seorang ibu dalam menerima ketentuan Allah swt.
Abu MUDI mengutip kitab Mauizhatul Mu'minin mengatakan ketika anaknya meninggal dunia, Ummu Sulaim tidak langsung menyampaikan kabar tersebut kepada Abu Thalhah yang baru pulang ke rumah. Ia terlebih dahulu menyiapkan makanan dan melayani suaminya.
"Setelah itu, Ummu Sulaim menyampaikan perumpamaan tentang barang titipan. Apabila seseorang menerima titipan, kemudian pemiliknya mengambil kembali barang tersebut, penerima titipan tidak berhak menahannya," sambungnya.
Mudir Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu mengatakan melalui perumpamaan tersebut, Ummu Sulaim mengingatkan bahwa anak merupakan amanah Allah swtyang pada waktunya akan kembali kepada-Nya.
Abu Thalhah kemudian menghadap Rasulullah saw untuk menceritakan peristiwa yang dialaminya. Mendengar kisah tersebut, Rasulullah mendoakan keberkahan bagi keduanya. "Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada keduanya pada malam mereka."
Dalam redaksi riwayat lain, Rasulullah saw berdoa, "Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kalian berdua pada malam kalian."
Setelah doa Rasulullah tersebut, Ummu Sulaim mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki bernama Abdullah bin Abi Thalhah. Dalam riwayat disebutkan bahwa Abdullah kemudian memiliki sembilan anak yang semuanya dikenal sebagai ahli Al-Qur'an.
Menurut Abu MUDI, kisah tersebut memperlihatkan bahwa kesabaran dalam menerima musibah dapat menjadi jalan memperoleh keberkahan dari Allah swt. Kesedihan akibat kehilangan orang yang dicintai merupakan ujian yang harus dihadapi dengan ketabahan dan keyakinan terhadap ketentuan-Nya.
Abu MUDI juga mengingatkan pentingnya nilai kesabaran dalam pembinaan akhlak dan penyucian jiwa, sekaligus pemahaman terhadap tanggung jawab keluarga serta ketentuan syariat dalam kehidupan rumah tangga.
"Kehidupan keluarga tidak hanya membutuhkan pemahaman hukum agama, tetapi juga pengamalan nilai kasih sayang, kesabaran, dan tanggung jawab. Dalam konteks orang tua yang kehilangan pasangan, anak-anak diharapkan tidak hanya meminta mereka bersabar, tetapi juga memberikan perhatian nyata agar tidak merasa kesepian dan terabaikan," ujarnya.
Abu MUDI lebih lanjut menambahkan pentingnya birrul walidain dilestarikan dalam meniti kehidupan ini, salah satunya apabila ayah atau ibu memiliki keinginan untuk menikah kembali, anak hendaknya menghormati keputusan tersebut dan membantu mencarikan pendamping yang baik. Namun, pernikahan tetap harus dilakukan atas dasar kerelaan pihak yang bersangkutan.
"Kewajiban berbakti kepada orang tua sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 23 tidak berhenti ketika anak telah menikah. Karena itu, anak yang telah memiliki keluarga sendiri tetap dituntut menjaga hubungan baik, memperhatikan kebutuhan, dan mengupayakan kebahagiaan orang tuanya," lanjutnya.
Ia mengingatkan bahwa perhatian terhadap orang tua tidak boleh berkurang hanya karena anak telah memiliki tanggung jawab terhadap pasangan dan keturunannya. Kedua tanggung jawab tersebut perlu dijalankan secara seimbang sesuai dengan tuntunan agama.
Pengajian Tastafi tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kesabaran menghadapi musibah dan pengabdian kepada orang tua merupakan bagian penting dari ajaran Islam yang harus diwujudkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Terpopuler
1
Eks Kapolri Listyo Sigit Jadi Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden Prabowo
2
Innalillahi, Penyusun Syair Asmaul Husna KH Amjad Al Hafidz Wafat
3
Ketum PBNU Gus Kikin Imbau Warga Tidak Terprovokasi Kasus Pembakaran Warung Mi di Sukoharjo
4
Pelantikan PCNU Bekasi 2026–2031, Ketua PBNU Puji Raharjo Ingatkan Qanun Asasi untuk Penguatan Organisasi
5
Banjir di Aceh Utara, Ansor Desak Pemerintah Tingkatkan Kesiapsiagaan
6
Perjuangan dan Dedikasi Nyai Shinta Nuriyah: Dari Sahur Bersama hingga Kesetaraan Gender
Terkini
Lihat Semua