5 Cara Menghindarkan Anak dari Trauma Masa Kecil
NU Online · Kamis, 23 Juni 2022 | 13:07 WIB
Ilustrasi: Mengajak anak bercerita tentang kehidupannya di sekolah atau lingkungan pertemanannya adalah cara sederhana membangun komunikasi baik dan terbuka antara orang tua dan anak.
Syifa Arrahmah
Penulis
Jakarta, NU Online
Pengurus Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU), Ervi Siti Zahroh Zidni Ma’ani bagikan lima cara menghindarkan anak dari trauma masa kecil.
"Pertama, validasi perasaan anak. Validasi adalah cara untuk memberi tahu seseorang bahwa kita memahaminya. Merasa dipahami adalah unsur penting untuk merasa terhubung dan didukung," kata Ervi lewat keterangan tertulis yang diterima NU Online, Kamis (23/6/22).
Ia juga mengungkapkan validasi perasaan anak sangatlah penting karena kemampuan seorang anak untuk mengatur emosi nantinya akan memengaruhi hubungan dengan keluarga, teman sebaya, prestasi akademik.
"Validasi perasaan juga turut pengaruhi kesehatan mental jangka panjang seperti mencegah dari trauma, hingga kesuksesan anak kelak," katanya lagi.
Kedua, lanjut dia, cara komunikasi yang terbuka. Mengajak anak bercerita tentang kehidupannya di sekolah atau lingkungan pertemanannya adalah cara sederhana membangun komunikasi baik dan terbuka antara orang tua dan anak.
"Sikap terbuka ini akan membuat keduanya saling memahami satu sama lain," jelasnya.
Selanjutnya, cara ketiga adalah hormati anak dengan menghargai keputusannya. Bagi Ervi, hal itu sangat penting dilakukan setiap orang tua, tidak menuntut anak untuk menuruti setiap keinginan orang tua melainkan mengapresiasi usaha dengan tetap mengarahkannya.
"Orang tua perlu belajar untuk menghargai keputusan yang diambil anak. Itu penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak," jelas dia.
Keempat, selalu melibatkan anak dalam berbagai keputusan di rumah. Pelibatan anak dalam pengambilan keputusan, terang dia, membuat anak belajar untuk menyuarakan pendapatnya, selain itu orang tua juga akan terbantu untuk mengenal lebih dalam karakter dan kebutuhan anaknya.
"Cara ini mungkin terkesan sepele tapi berdampak besar," ujarnya.
Cara kelima, ungkap Ervi, terapkan pola asuh mindful parenting. Pola asuh ini berfungsi sebagai remot pengendali bagi orang tua dalam mengatur emosinya. Artinya, bersikap mindful itu sama dengan melepaskan seluruh perasaan di masa lalu dan fokus pada apa yang ada sekarang.
"Pola asuh ini dilakukan dengan kesadaran penuh tanpa adanya penghakiman. Jadi, sebelum mengendalikan emosi usahakan mengendalikan emosi dan perilaku kita terlebih dahulu," jelasnya.
Pewarta: Syifa Arrahmah
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
2
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
3
11 Kecamatan Banyumas Rawan Kekeringan, Ansor Minta Penanganan Tak Hanya Distribusi Air Bersih
4
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
5
Fachry Ali: Gus Dur Membuka Jalan Saya Melihat NU sebagai Objek Kajian Akademik
6
Halaqah Pra-Muktamar di Ciganjur Hasilkan Delapan Rekomendasi untuk Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua