Daerah

Ansor Kemangkon Gelar Pengkaderan dan Penguatan Aswaja

NU Online  ·  Senin, 13 Februari 2012 | 10:47 WIB

Kemangkon, NU Online
Nahdlatul Ulama merupakan sebuah organisasi warisan para ulama yang menjadi ujung tombak dalam pembentukan Negara Kesatuan RI. Untuk itu dalam hal pengawalan terhadap kelanggengan NU dan amaliah-amaliah Nahdlatul Ulama menjadi tugas kita sebagai generasi Muda NU dibawah panji Gerakan Pemuda Ansor dan banom-banom yang lainnya.

Demikian yang disampaikan Ketua PAC GP Ansor Kec Kemangkon Torik Jahidin dalam sambutannya mengawali kegiatan Penkaderan dan Penguatan Aswaja yang diselenggarakan pada hari Ahad, 12 Februari 2012 bertempat di Aula MTs Ma’arif NU 08 Panican yang diselenggarakan oleh PC GP Ansor Purbalingga yang dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta.
<>
Lebih lanjut dikatakan bahwa melalui kegiatan ini diharapkan akan tertanam akidah Aswaja yang kuat untuk membentengi dari gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam murni yang dengan mudahnya mengkafirkan amaliah-amaliah Ahlussunah wal Jamaah Annahdliyah.

Dalam acara ini hadir juga Ketua MWC NU Kec Kemangkon K Dalail Khoerot, PC GP Ansor Kab Purbalingga sahabat Ulil Archam dan jajaran pengurus lainnya serta dari PC GP Ansor Kabupaten Banjarnegara. Sebagai narasumber menghadirkan Dosen STAIN Purwokerto KH Khariri Sofa.

Dalam pidato sambutannya Kiai Dalail merasa bangga terhadap kegiatan ini yang diselenggarakan oleh GP Ansor, mengingat bahwa tidak banyak acara acara yang diselenggarakan semacam ini yang menghadirkan bassis massa atau umat NU di level bawah.

Biasanya NU mengadakan acara ini dengan peserta kiai-kiai, Dai muda yang menurutnya tidak akan goyah oleh ganasnya aliran-aliran Islam radikal. Tetapi dengan kegiatan ini menandakan bahwa Ansor peduli terhadap keberlangsungan ajaran-ajaran Aswaja Annahdliyah.

Kegiatan penguatan Aswaja yang diselenggarakan ini adalah ke-4 kalinya dari tahap awal yang direncanakan dan akan dilanjutkan dengan Penguatan Aswaja tahap kedua, karena materi yang akan disampaikan di tahap ini adalah baru materi dasar belum pada materi yang krusial.

Demikian yang disampaikan oleh Ulil Archam sebagai Ketua PC GP Ansor Purbalingga. Ini dirasa perlu karena warga NU harus paham dasar-dasar akidah Aswaja sehingga bila ada gerakan yang mendiskreditkan NU kita bisa mengkaunter dengan pendekatan keilmuan yang mapan. Warga NU tidak usah khawatir tidak usah takut terhadap gerakan gerakan purifikasi islam jika kita punya bekal pemahaman Aswaja yang kuat.

Khariri Sofa dalam materinya yang masih berkutat pada sejarah munculnya Aswaja. Ia mengatakan bahwa perpecahan Islam mulai timbul sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW, lebih lebih pada masa pemerintahan khalifah Ali bin Abi Thalib karamallohu wajhah yang dipicu oleh masalah politik yaitu perebutan kekuasaan.

Dampak dari masalah tersebut merambah pada masalah aqidah dan timbul penyimpangan dalam bidang teologi. Munculnya faham Islam Ahlussunah Wal Jama’ah pada hakekatnya dilatarbelakangi untuk meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan mengembalikan ajaran Islam yang dibina oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh para sahabat.

Materi yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dan menggunakan skema atau diagram melalui whiteboard ini memudahkan peserta  memahami materi yang disampaikan. Dalam acara ini juga diselenggarakan sesi dialog atau tanya jawab.

Para peserta antusias mengikuti sesi dialog ini. Kebanyakan pertanyaan yang disampaikan oleh peserta sudah menjurus masalah furuiyyah, yang dalam hal ini belum banyak disampaikan materinya, tetapi narasumber dengan arif menjawabnya dan memberikan penjelasan kepada penanya dan audiens pada umumnya. tetapi penjelasan yang lebih luas akan disampaikan pada kegiatan penguatan Aswaja tahap selanjutnya.

Sebagai rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Ansor melalui majlis dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor, malam harinya bertempat di Majasem Kemangkon diselengggarakan pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menghadirkan Pimpinan Pusat GP Ansor KH Muhamad Faris El-Haq dari Buntet Cirebon yang juga putra dari Abah Fuad Hasyim, tokoh NU kharismatik dari Cirebon.

Dalam ceramahnya disampaikan bahwa NU adalah pemilik negara ini, karena peran Ulama peran kiai sejak jaman penjajahan sampai sekarang ini ulama kiai adalah garda terdepan pengawal NKRI sehingga NU adalah pemilik negara ini. Maka sangat diherankan ada orang baru yang mengkafirkan amaliah NU, membid’ahkan amaliah-amaliah NU.

“Mereka hanya pengontrak-pengontrak baru yang tidak sepatutnya menyalahkan pemilik rumah. Maka ia berpesan mari kita perbaiki akhlak kita, mari kita didik anak cucu kita penerus kita untuk mencintai Nabi, khidmat pada kiai dan tetap khidmat pada NU, tandasnya.



Redaktur: Mukafi Niam

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang