Demi Ibadah, Warga Korban Banjir Bangun Huntara Mandiri dari Bekas Kayu Banjir
NU Online · Selasa, 24 Februari 2026 | 09:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Aceh Timur, NU Online
Warga korban banjir bandang di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, membangun hunian sementara (huntara) secara mandiri. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan sisa kayu yang terbawa arus banjir pada November 2025 lalu.
Langkah tersebut dilakukan demi mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak, khususnya untuk kenyamanan beribadah di bulan suci Ramadhan. Sebelumnya, puluhan warga masih bertahan di tenda pengungsian dengan kondisi yang serba terbatas.
Data di lokasi mencatat sebanyak 46 kepala keluarga (KK) terdampak banjir bandang. Dari jumlah itu, 32 rumah dilaporkan hilang terseret arus, sementara sisanya mengalami kerusakan berat.
Pantauan di lapangan, warga bergotong royong mengumpulkan kayu-kayu yang masih layak pakai untuk dijadikan rangka dan dinding huntara. Atap bangunan menggunakan terpal dan sebagian seng bantuan yang tersedia.
Abu Syam, salah seorang warga terdampak, mengatakan inisiatif membangun huntara muncul karena kondisi tenda pengungsian tidak lagi nyaman, terlebih saat memasuki Ramadhan.
“Kalau di tenda kurang nyaman untuk shalat dan beribadah. Saat hujan bocor, siang hari panas. Jadi, kami sepakat bangun huntara dari kayu bekas banjir supaya lebih tenang menjalankan ibadah,” ujarnya, Ahad (22/2/2026)
Menurutnya, meski bangunan yang didirikan sangat sederhana, setidaknya keluarganya kini memiliki ruang yang lebih tertutup dan aman untuk beristirahat serta melaksanakan ibadah.
“Ini hanya sementara, sambil menunggu bantuan rumah tetap. Yang penting sekarang anak-anak bisa tidur lebih nyaman dan kami bisa sahur serta tarawih dengan lebih khusyuk,” tambahnya.
Ketua GP Ansor Aceh Timur Damar menyatakan keprihatinannya atas kondisi warga yang masih harus berjuang membangun tempat tinggal darurat secara swadaya.
“Kami prihatin, apalagi ini bulan Ramadhan. Dari 46 KK terdampak, 32 rumah hilang total. Warga berinisiatif membangun huntara agar bisa beribadah dengan lebih layak,” kata Damar.
Ia menyebut kader Ansor telah turun membantu proses pembangunan huntara, baik dalam bentuk tenaga maupun dukungan material tambahan. Namun, ia berharap pemerintah daerah dan pusat segera mempercepat realisasi pembangunan hunian tetap bagi korban banjir.
“Semangat gotong royong warga luar biasa, tapi tentu mereka tidak bisa dibiarkan berjuang sendiri. Kami berharap pemerintah segera membantu pembangunan rumah permanen,” tegasnya.
Hingga kini, warga Dusun Ranto Panyang Rubek terus berupaya menata kembali kehidupan mereka. Huntara sederhana dari kayu sisa banjir menjadi simbol ketahanan dan harapan di tengah keterbatasan, sembari menanti kepastian bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua