Di Tengah Bulan Suci, Ribuan Korban Banjir Pidie Jaya Masih Menanti Haknya
NU Online · Ahad, 22 Februari 2026 | 21:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Pidie Jaya, NU Online
Ramadhan tahun ini semestinya menjadi bulan yang penuh ketenangan bagi masyarakat di Pidie Jaya. Namun bagi ribuan kepala keluarga korban banjir bandang yang melanda wilayah itu beberapa waktu lalu, bulan suci justru diwarnai kegelisahan.
Bantuan Jatah Hidup (Jadup) dari pemerintah pusat yang dinanti belum juga cair hingga memasuki pekan terakhir Februari 2026.
Di sejumlah gampong terdampak, aktivitas warga memang perlahan kembali berjalan. Anak-anak sudah mulai bermain di halaman rumah yang sempat terendam. Sebagian pedagang kembali membuka lapak kecil di pinggir jalan. Namun di balik denyut kehidupan yang mencoba bangkit itu, tersimpan kecemasan tentang kebutuhan sehari-hari yang kian mendesak.
Bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp15.000 per hari yang dijanjikan kepada warga terdampak dinilai sangat berarti. Terlebih pada bulan Ramadhan, kebutuhan rumah tangga meningkat, mulai dari bahan pokok hingga persiapan menyambut Idul Fitri.
Nilawati, warga Gampong Blang Dala, mengaku sudah tiga bulan menunggu kejelasan pencairan. “Kami dengar di daerah lain sudah ada yang menerima. Tapi di sini belum juga cair. Sekarang sudah Ramadhan, kebutuhan makin banyak,” ujarnya pada Ahad (22/2/2026).
Kondisi serupa dirasakan Bang Jal, pedagang kecil di Kota Meureudu. Usahanya belum sepenuhnya pulih sejak banjir menerjang. “Modal habis waktu banjir. Sekarang usaha pelan-pelan bangkit. Jadup itu sangat membantu, tapi sampai hari ini belum jelas kapan cairnya,” katanya.
Di sudut pos jaga gampong, beberapa ibu rumah tangga berkumpul sembari menyiapkan menu berbuka sederhana. Mereka berharap ada kabar baik dalam waktu dekat. “Kami tidak minta lebih. Itu hak kami sebagai korban bencana. Semoga segera cair,” kata Kanaria.
Data korban disebut telah dikirim ke Kementerian Sosial. Namun hingga kini belum ada kepastian waktu pencairan. Situasi ini memunculkan tanda tanya dan keresahan di tengah masyarakat yang sedang berjuang bangkit.
Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali atau akrab disapa Abu Sibreh menyatakan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Ulama yang akrab disapa Abu Sibreh itu menilai bantuan jadup merupakan hak korban yang tidak boleh tertunda terlalu lama.
“Korban bencana sudah cukup diuji dengan kehilangan harta dan sumber penghasilan. Jangan sampai mereka kembali diuji dengan ketidakjelasan birokrasi,” ujarnya pada Ahad (22/2/2026).
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah segera memberikan kepastian agar masyarakat bisa menjalani Ramadhan dengan lebih tenang.
Keprihatinan juga disampaikan Masrur, mantan Ketua GP Ansor Pidie Jaya. Aktivis muda yang selama ini aktif dalam kegiatan sosial itu mengatakan bahwa penantian jadup bukan sekadar soal nominal uang, tetapi menyangkut rasa keadilan dan kepastian bagi korban.
“Bagi sebagian orang mungkin Rp15.000 per hari terlihat kecil. Tapi bagi korban banjir yang kehilangan penghasilan, itu sangat berarti. Ini soal keberpihakan negara kepada rakyat kecil,” ungkapnya.
Masrur mengaku kerap menerima keluhan warga yang datang menanyakan perkembangan pencairan bantuan. Sebagai bagian dari masyarakat sipil, ia bersama sejumlah relawan berupaya menjembatani komunikasi antara warga dan pemerintah daerah.
Menurutnya, transparansi informasi menjadi kunci meredam keresahan. “Kalau memang ada kendala administrasi atau verifikasi di pusat, sampaikan secara terbuka. Jangan biarkan masyarakat bertanya-tanya tanpa jawaban,” katanya.
Ia juga mengajak para pemuda untuk tidak hanya menunggu bantuan, tetapi turut bergerak membantu sesama melalui kegiatan sosial, penggalangan donasi, dan gotong royong memperbaiki rumah warga yang rusak ringan.
“Semangat kebersamaan harus tetap hidup. Kita dorong pemerintah menunaikan kewajibannya, tapi kita juga tidak boleh berhenti saling membantu,” tambahnya.
Banjir bandang yang melanda Pidie Jaya tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga meninggalkan luka psikologis. Banyak keluarga yang masih trauma ketika hujan turun deras. Anak-anak terbangun di malam hari karena takut air kembali masuk ke rumah.
Dalam situasi seperti ini, ia mengatakan kepastian bantuan menjadi bagian penting dari proses pemulihan. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga memberi rasa aman bahwa negara hadir di tengah rakyatnya.
"Ramadhan sejatinya adalah bulan solidaritas dan kepedulian. Di Pidie Jaya, nilai itu terasa nyata dalam bentuk dapur umum swadaya, pembagian takjil gratis, hingga pengajian yang menjadi ruang saling menguatkan, " pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua