Daerah

Kiai Hodri Ariev Ingatkan Peran Penting Pesantren

NU Online  ·  Selasa, 24 Juli 2018 | 01:30 WIB

Jember, NU Online 
Salah satu penyebab utama munculnya tindakan radikal adalah pemaknaan yang salah terhadap teks jihad disertai  timbulnya keyakinan pada sebagian umat Islam bahwa diri merekah yang paling benar. Sedangkan umat yang lain salah. Akibatnya, kebenaran dan surga dipersepsikan hanya menopoli mereka. 

Hal tersebut diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Kecamatan Silo, Jember, Jawa Timur, KH Hodri Ariev. Dirinya menjadi narasumber dalam diskusi publik Membentengi Pesantren dan Masyarakat dari Sikap Intoleransi, Hoaks dan Paham Radikal di  Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Taman Baru, Desa Glagahwero,  Kalisat,  Jember, Senin (23/7).

Pemaknaan yang salah tersebut,  misalnya jihad hanya diartikan membunuh atau  berperang. Pada waktu bersamaan, keyakinan superioritas kebenaran yang mereka miliki semakin menebal. “Jika sudah begitu,  mereka tentu sulit membuka ruang bagi pihak lain yang  berbeda padangan,” katanya. Akibat lanjutannya, apa yang mereka perbuat, termasuk gerakan radikal dan terorisme, selalu dilegitimasi dengan keyakinan itu.

“Pemahaman agama yang lemah seperti ini  lalu semakin diperparah dengan pembusukan agama oleh politik. Maka radikalisme akan tumbuh subur,” urainya.

Untuk  Indonesia, munculnya keyakinan semacam di atas disebabkan belum tuntasnya pribumisasi Islam. “Konsep pribumisasi Islam sesungguhnya sangat tepat diterapkan karena terkait dengan pemahaman Islam dalam konteks keindonesiaan,” jelasnya. Jadi Islam perlu ditanam di tanah Indoensia selaras dengan kearifan  lokal bumi Nusantara, lanjutnya.

“Islam harus ditanamkan tanpa  mengabaikan fakta keberagaman masyarakat Indonesia. Dan nyatanya Islam sangat menghargai  perbedaan, baik ke luar maupun  ke dalam,” jelas Kiai Hodri.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk,  Sumenep itu menegaskan bahwa pesantren punya peran penting dalam memberikan pencerahan terkait radikalisme. Sebab, pesantren dengan para kiai dan kulturnya punya bekal yang memadai untuk menetralisir sumber-sumber yang memunculkan radikalisme.

“Karena itu,  eksistensi pesantren harus  dijaga. Sebab pesantren adalah sokoguru dan penjaga persatuan dan keutuhan bangsa,” tandasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang