Jepara, NU Online
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’in, KH Muchlisul Hadi, Syuriah MWCNU Kalinyamatan, meninggal dunia, Rabu (11/12) malam. Ia wafat dalam kondisi sehat. Pada Selasa (10/12) ia masih turut serta dalam pertemuan NU, mujahadah, shalat subuh hingga mengajar santri.
<>
Pada Rabu pagi (12/12), usai mengajar ngaji, Kiai Muchlis masih sempat menemui tamu. Ia juga sempat melihat pembangunan Gedung MWCNU Kalinyamatan. Kemudian pulang, dan sampai di kediamaan, usai wudhu hendak shalat Dluha, tiba-tiba badannya ngedrop.
“Keluarga saat itu sudah membacakan Ya sin dan dzikrullah, kemudian melarikannya ke ICU,” papar K Nurul Musyafak sebelum prosesi pemberangkatan jenazah, di kompleks pesantren Roudlotul Huda Margoyoso, Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, Kamis (12/12).
Musyfak menceritakan, saat sakaratul maut, Kiai Muchlis membacakan ayat-ayat Mujahadah. Dengan iktibar itu keluarga yang ditinggalkan meski sedih tetapi memiliki tokoh kebanggaan. Karena almarhum ialah sosok yang istiqomah dalam bermujahadah. Masyarakat juga menilai ia termasuk pribadi sakhie (pemurah) dalam hal apa pun.
Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi dalam sambutannya mengajak kepada keluarga shohibul musibah agar ridho menerima musibah. Dengan keridhoan itu, disampaikannya akan mendapat rahmat dan hidayah dari Allah.
Masih menurutnya, kiai adalah penerang. “Kabupaten Jepara saat ini kehilangan satu penerang lagi. Karenanya kita yang ditinggalkan harus meneruskan perjuangan-perjuangannya. Utamanya kepada keluarga agar meneruskan tinggalan almarhum yakni meneruskan pesantren agar semakin maju dan berkembang,” imbuhnya.
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Sya’roni Ahmadi saat memberikan tausiyah mengutip sabda Nabi yang intinya saat orang meninggal dunia agar dimintakan ampunan dosa-dosanya kepada Allah.
Kiai kharismatik asal Kudus itu pun juga bersaksi almarhum meninggal dalam keadaan iman dan khusnul khotimah. Diungkapkannya kiai Muchlis juga meninggalkan 3 amal yang baik. “Sadaqtin jariyatin berupa pesantren. Ilmin yuntafau bih, dengan mengamalkan ilmu. Dan waladin sholih menjadi pribadi yang sholih,” tegasnya.
Prosesi pemakaman jenazah itu dihadiri ribuan jamaah. Karena sesaknya aula pesantren shalat jenazan dilaksanakan 5 kali. Hadir dalam kesempatan habaib dan kiai diantaranya Habib Muhammad Al-Jufri, KH Kholil, KH Faidi Rohman, KH Miftah Abu, KH Hayatun Abdullah Hadziq, KH Makmun Abdullah hadziq, KH Mustamir Wildan, KH Hamzah, KH Mudhofar Fatkhur Rohman. Jenazah dikebumikan di makam Sekar Petak, 50 meter dari kompleks pesantren Roudlotul Huda. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua