Hamzah Sahal
Kolumnis
Publik NU mengenal Zulvan Lindan sebagai anggota DPR dari PDI Perjuangan yang sangat kritis pada kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sebagai salah satu motor penggerak di parlemen, termasuk aktif memainkan manuver politik dalam menjatuhkan Gus Dur.
Puncaknya dari manuver itu Gus Dur dijatuhkan dari posisi presiden diganti oleh wakilnya, Megawati Sukarno Putri.
Belakangan, ahli hukum tata negara di Indonesia Mahfud MD menegaskan bahwa Gus Dur tak terlibat sama sekali dalam kasus tersebut. Menurut Mahfud, kasus Bologgate dan Bruneigate sengaja diramaikan untuk menjatuhkan citra Presiden Gus Dur waktu itu.
Namun, terlepas dari itu semua, banyak yang tidak tahu bahwa dia memiliki hubungan dekat dengan Gus Dur sejak tahun 1980-an. "Yang memasukkan saya ke PDI Perjuangan dan menjadi anggota DPR itu ya Gus Dur," cerita Zulfan.
"Saya tanya beliau, Gus, saya kan HMI, masak ke PDI Perjuangan?" tanya Zulfan yang memang mantan ketua HMI, yang inginnya masuk PKB saja.
"Gini lho, ente penting bersama Mbak Mega, biar PDI ada hijaunya. Sudah, nurut saya," Zulfan menirukan Gus Dur. Akhirnya pria kelahiran Banda Aceh 1 Oktober 1959 ini masuk partai "merah" ini hingga duduk di kursi DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, 1999-2004.
Siapa yang nyana, Gus Dur yang menyelundupkan Zulfan Lindan, tetapi dia pula yang bersemangat ikut melengserkan Gus Dur.
Namun, saat menemui Zulfan, saya tidak menangkap bahwa Zulfan membenci Gus Dur. Peristiwa politik yang luar biasa itu lewat begitu saja, mungkin bau sebentar, tetapi setelah itu berlalu tanpa sisa, seperti kentut.
Gus Dur itu manusia yang tidak bisa dimengerti sepenuhnya oleh orang-orang sekelilingnya atau oleh orang-orang terdekatnya sekalipun. Itu bukan statemen Zulfan langsung, tetapi saya simpulkan sendiri.
“Aduh Gus Dur ini, pusing kita. Beliau tidak punya duit, tetapi enteng saja kasih duit kepada orang-orang, kepada kiai-kiai yang mendatanginya,” begitu kurang lebih kata Zulfan, memulai cerita yang konkret kepada saya dan Mustakim, jurnalis senior dari Kompas TV.
Suatu hari, Gus Dur baru saja menerima duit dari Edward Soeryadjaya (keduanya bekerja sama mendirikan Bank NU-Summa), taipan yang lahir di Amsterdam 1948.
“Puluhan juta. Waktu itu ya cukup besar, dollar belum 2000. Saya menyaksikan langsung, duit dibungkus kertas dan ditaruh di tas plastik,” begitu Zulfan bercerita. Tetapi, duit itu dikasihkan begitu saja oleh Gus Dur kepada para tetamunya yang datang di kantor PBNU. Gus Dur, kata Zulfan, tidak membuka dan tidak menghitung sama sekali.
Setelah para tamunya pergi, Gus Dur mengajak saya makan kambing bakar kesukaannya di Jalan Raden Saleh. “Fan, ayuk kita makan kambing bakar. Kamu punya duit, kan?” Zulfan yang waktu itu masih aktivis belum punya posisi apa-apa tentu saja menggelengkan kepala.
Keheranan Zulfan Lindan pada Gus Dur bukan saja soal duit, tetapi juga soal begitu rajinnya Gus Dur mendatangi pengurus NU di daerah-daerah. “Kata orang Jawa, Gus Dur ini kayak gak punya pusar, gak ada capeknya.”
“Gus, mbok istirahat, apa gak capek keliling terus. Lagian buat apa sih?” Zulfan bertanya dengan nada protes.
“Ente harus tahu Zul, pengurus NU di daerah itu, meski sering saya kunjungi, tetap saja didatangi Kodim. Coba bayangkan, kalau saya gak datang. Rusak semua.”
Hamzah Sahal, penulis sejumlah buku, di antaranya Humor Ngaji Kaum Santri
Terpopuler
1
NU Online Institute Buka Seleksi Beasiswa Kuliah di Malaysia bagi Santri, Ini Syarat dan Jadwalnya
2
LSP Pagar Nusa Jalani Asesmen Penuh BNSP untuk Perkuat Kualitas SDM
3
Lula Menangkan Pilpres Brasil, Cetak Sejarah dengan Empat Kali Masa Jabatan
4
Alvin Tedjo, Pria Keturunan Indonesia yang Terpilih sebagai Wali Kota Mississauga di Kanada
5
Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Ada Kenaikan hingga Akhir Tahun
6
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar: Tugas Pengurus Merangkul Semua Elemen, Meningkatkan Kualitas Nahdliyin
Terkini
Lihat Semua