Macron Ancam Tindak Tegas Pelaku Penjarahan dalam Kerusuhan Prancis
NU Online · Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:30 WIB
Jakarta, NU Online
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam gelombang kerusuhan yang melanda sejumlah kota di Prancis pada Sabtu (17/10/2026). Macron memperingatkan pelaku penjarahan dan perusakan properti agar bertanggung jawab atas tindakan mereka. Kerusuhan yang berlanjut hingga Ahad itu menyebabkan lebih dari 600 petugas terluka dan lebih dari 2.000 orang ditangkap.
“Mereka yang merusak properti harus menanggung akibatnya. Mereka yang melakukan penjarahan harus mengganti kerugian yang ditimbulkan. Mereka yang berupaya meruntuhkan Republik akan dimintai pertanggungjawaban,” kata Macron dalam pernyataannya di akun X dikutip Selasa (20/10/2026).
Macron menuding kelompok-kelompok ekstrem kiri dan sejumlah pelaku kriminal terlibat dalam aksi kekerasan tersebut. Ia menyebut sejumlah toko dijarah, bangunan publik dan tempat usaha diserang, serta beberapa balai kota mengalami kerusakan.
“Ratusan petugas kepolisian dan aparat keamanan mengalami luka-luka,” ujarnya.
Macron juga menyerukan kepada partai politik, organisasi profesi, dan serikat pekerja untuk mengutuk segala bentuk kekerasan serta mengajak masyarakat memulihkan ketenangan.
Kerusuhan di Prancis berawal dari aksi protes pelajar yang menyoroti minimnya jumlah guru, kepadatan ruang kelas, serta buruknya fasilitas pendidikan. Demonstrasi yang berlangsung sejak September 2026 itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas setelah serikat pekerja dan pendukung gerakan Yellow Vest turut bergabung. Gerakan tersebut sebelumnya dikenal melalui aksi penolakan terhadap kenaikan harga bahan bakar.
Pada Sabtu (17/10/2026), gelombang demonstrasi meluas ke sejumlah kota. Massa menyuarakan keberatan atas meningkatnya biaya hidup, kesenjangan sosial, dan memburuknya kualitas pelayanan publik.
Situasi di sejumlah titik berubah menjadi bentrokan ketika sebagian demonstran melemparkan benda ke arah petugas keamanan. Aparat kemudian menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa.
Kerusuhan terjadi di sejumlah kota, antara lain Paris, Marseille, Lyon, Lille, Bordeaux, Limoges, Nice, dan Strasbourg.
Di Paris, Place de la République menjadi salah satu lokasi utama berkumpulnya demonstran. Sementara itu, di Marseille, sejumlah peserta aksi dilaporkan menerobos masuk ke balai kota dan merusak fasilitas di dalamnya.
Kerusakan juga terjadi di Lyon, dengan sejumlah toko dan bangunan menjadi sasaran. Di Bordeaux, sekelompok orang bertopeng dilaporkan menyerbu kompleks kediaman pejabat setempat. Adapun di Limoges, balai kota bersejarah yang berdiri sejak 1883 dilanda kebakaran.
Situasi belum kondusif pada Ahad (18/10/2026). Ratusan orang kembali berkumpul di Place de la République, Paris, dan bentrokan kembali terjadi. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan, sedangkan sejumlah sepeda dilaporkan dibakar.
Di Marseille, aparat juga menghadapi sejumlah insiden, termasuk upaya sekelompok orang memasuki toko secara paksa. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa gangguan keamanan masih berlanjut meskipun demonstrasi besar telah berlangsung sehari sebelumnya.
EFE memberitakan Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez menyatakan bahwa lebih dari 2.000 orang telah ditangkap dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Sementara itu, lebih dari 600 personel yang terdiri atas polisi, anggota gendarmerie, dan petugas pemadam kebakaran dilaporkan mengalami luka-luka.
Sementara euronews.com melaporkan dampak kerusuhan juga dirasakan sektor perdagangan. Jaringan ritel Carrefour melaporkan sekitar 50 gerainya mengalami kerusakan, dengan 20 di antaranya menjadi sasaran penjarahan.
Carrefour memperkirakan kerugian akibat kerusakan dan penjarahan tersebut mencapai puluhan juta euro.
Terpopuler
1
Innalillahi, Prof KH Syukron Makmun Pengasuh Pesantren Daarul Rahman Jakarta Wafat
2
Gus Faiz Ceritakan Wasiat dan Keinginan KH Syukron Makmun sebelum Wafat
3
Kapolri Suyudi Sambangi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Pesantren Miftachussunnah dan Tebuireng
4
Berita Duka dari Yogyakarta, KH Muhammad Nasikh Ridwan Wafat pada Usia 65 Tahun
5
BMKG: Sejumlah Wilayah Indonesia Berpotensi Kering hingga 24 Oktober
6
PWNU Jakarta Jadwalkan Pembukaan Konferwil XXI di Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur
Terkini
Lihat Semua