Nasional

5 Peristiwa di Bulan Jumadal Ula pada Era Rasulullah

NU Online  ·  Senin, 19 Oktober 2026 | 15:00 WIB

5 Peristiwa di Bulan Jumadal Ula pada Era Rasulullah

Ilustrasi Jumadal Ula 1448 H. (Foto: NU Online/Syakir NF)

Jakarta, NU Online

Bulan Jumadal Ula 1448 H memasuki tanggal kedelapan. Ada sejumlah peristiwa penting pada era Rasulullah saw masih hidup di bulan kelima Hijriah ini. Pertama, ada perang melawan Bani Sulaim.


"Sejumlah peristiwa penting yang terjadi di bulan Jumadal Ula—terutama pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam—di antaranya ialah beliau berperang melawan Bani Sulaim di Buhran," tulis Ustadz M Tatam Wijaya dalam artikelnya berjudul Bulan Kelima: Jumadil Awwal, Jumadil Ula, atau Jumadal Ula? dikutip NU Online pada Senin (19/10/2026).


Keterangan Ustadz Tatam di atas didasarkan pada Kitab al-Maghazi lil Waqidi karya Syekh Muhammad bin Umar bin Waqid.


Kedua, di bulan Jumadal Ula juga, Rasulullah saw juga mengirim pasukan ekspedisi Zaid ibn Haritsah ke wilayah al-Ish pada tahun keenam Hijriah. Berikutnya, ada pertempuran melawan kaum Yahudi Khaibar pada tahun ketujuh Hijriah.


Di samping itu, di bulan yang sama, masih menurut Al-Waqidi, Rasulullah saw mengirim utusan ke Mu’tah pada tahun kedelapan Hijriah dan mengutus Khalid ibn Walid untuk mengajak bani al-Harits di Najran masuk Islam.


"Bahkan, menurut Muhammad ibn Ishaq, perang Dzat al-Riqa‘ juga terjadi pada bulan ini," tulis Ustadz Tatam.


Sebagai informasi, penamaan bulan Jumadal Ula juga, seperti dikatakan Abu Sa'id, dilatarbelakangi oleh musim yang terjadi pada bulan tersebut, yaitu musim dingin (syita). 


"Jumada sendiri berasal dari kata jamada, yang berarti ‘beku’ sesuai dengan keadaan air yang beku di musim dingin," tulisnya mengutip Ibnu Manzhur dalam Lisanul ‘Arab dan al-Harawi dalam Tahdzib al-Lughah.


Jumadal Ula, kata Ibnu Duraid, memiliki sebutan lain di zaman Jahiliyah, yaitu al-Hanin, Rubba, Syaiban, dan Kanun al-Awwal. Sementara bulan Jumadal Akhirah disebut juga dengan nama Milhan dan Kanun al-Akhir.


"Kata syaiban dan milhan ini dapat ditelusuri dari kata syaib yang berarti ‘uban’, dan kata milh yang berarti ‘garam.’ Keduanya menggambarkan keadaan salju di musim dingin yang putih seperti uban atau garam dan terjadi di bulan Jumadal Ula dan Jumadal Akhirah," terangnya mengutip Abu al-Hasan dalam al-Mukhashish.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang