88 Juta Anak Indonesia Hadapi Risiko Digital, Menteri PPPA Tekankan Pentingnya Pengasuhan
NU Online · Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:00 WIB
Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi dalam Apel Hari Santri 2026 di Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026). (NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Kota Bekasi, NU Online
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mengatakan, sekitar 88 juta anak di Indonesia atau sepertiga dari total penduduk menghadapi tantangan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Arifah, sapaan akrab Menteri PPPA, menegaskan bahwa orang tua, pengasuh, guru, serta ustaz dan ustazah memiliki peran penting dalam melindungi anak dari dampak negatif penggunaan teknologi.
“Kita sekarang hidup di era kecanggihan teknologi yang luar biasa. Banyak kekerasan yang dialami oleh anak-anak yang dilakukan oleh anak-anak,” ujarnya dalam Apel Hari Santri 2026 di Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
Arifah menilai, santri memiliki posisi strategis bagi masa depan Indonesia. Pendidikan pesantren tidak hanya membekali anak dengan ilmu agama, tetapi juga membentuk akhlakul karimah, budi pekerti, dan kemandirian.
“Pondok pesantren adalah tempat yang paling tepat untuk mengasah anak-anak kita,” katanya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Darul Quran Wal Hadits, KH Abu Bakar Rahziz, mengatakan bahwa pesantren kini menghadapi tantangan yang tidak hanya berkaitan dengan pendidikan dan akhlak, tetapi juga persepsi publik, opini, dan algoritma media digital.
Menurutnya, peristiwa di lingkungan pesantren dapat direkam, difoto, diberi narasi, kemudian disebarkan ke berbagai wilayah dalam hitungan detik. Kondisi ini menuntut santri memiliki kecakapan digital agar mampu menyikapi informasi secara kritis.
“Resolusi santri hari ini menuntut kita berani melawan kebodohan, melawan framing, melawan hoax, judul, judi online, fitnah, pornografi, kecanduan game, dan segala hal yang rusak masa depan santri dan generasi Indonesia,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa santri harus mampu menguasai teknologi, bukan justru dikendalikan olehnya. Santri juga perlu menjadi pelopor literasi digital, penjaga akhlak, penyebar kebaikan, serta pembela martabat kemanusiaan.
“Santri harus menjadi pencipta manfaat, bukan penyebar mudarat. Santri menjadi pelopor perubahan, bukan korban perkembangan zaman,” tandasnya.
KH Abu Bakar berharap santri tidak hanya menjaga tradisi pesantren, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
3
Ketum GP Ansor: Keteladanan KH Abbas Buntet Layak Diabadikan sebagai Pahlawan Nasional
4
Akhir Perang AS-Israel Versus Iran
5
Masyarakat Sipil Gelar Aksi di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani Besok, Soroti Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
6
Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir
Terkini
Lihat Semua