Nasional

913 Hektare Gunung Api Awu dan 400 Hektare Gunung Butak Terbakar

NU Online  ·  Jumat, 11 September 2026 | 06:00 WIB

913 Hektare Gunung Api Awu dan 400 Hektare Gunung Butak Terbakar

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers daring, Kamis (10/9/2026). (BNPB)

Jakarta, NU Online

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan sulitnya penanganan kebakaran di kawasan pegunungan. Di Gunung Api Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, lahan terbakar mencapai 913,40 hektare. Sementara itu, kebakaran di Gunung Butak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, telah menghanguskan sekitar 400 hektare.

 

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan kebakaran di kawasan Gunung Awu masih berlangsung sejak Sabtu (5/9/2026). Api bahkan dilaporkan meluas hingga mendekati permukiman warga.

 

“Titik api yang berada paling dekat dengan kawasan permukiman dan perkebunan masyarakat saat ini berada di lereng menuju Kampung Bahu, dengan jarak sekitar dua kilometer dari perkebunan warga,” ujarnya dalam konferensi pers secara daring pada Kamis (10/9/2026).

 

Ia menjabarkan bahwa Kawasan terdampak Gunung Api Awu meliputi empat kecamatan, delapan kelurahan, dan 14 kampung. Dari total 913,40 hektare lahan terbakar, sekitar 200 hektare telah padam di Kecamatan Tahuna Barat. “Sementara kurang lebih 713,40 hektare masih dalam penanganan,” katanya.

 

Berton mengungkapkan bahwa upaya pemadaman menghadapi tantangan berupa medan pegunungan dengan waktu tempuh sekitar delapan jam pergi-pulang.

 

“Medan pegunungan dengan waktu tempuh sekitar delapan jam pergi-pulang serta keterbatasan sumber air, peralatan, dan personel,” ungkapnya.

 

Persoalan serupa terjadi di Gunung Butak. Karhutla di kawasan Petak 100, Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, berlangsung sejak Selasa (1/9/2026).

 

“Luas lahan terbakar yaitu kurang lebih 400 hektare lahan dan situasi terkini bahwa api dilaporkan belum padam,” katanya.

 

Berton juga mengungkapkan bahwa upaya pemadaman langsung di lereng Kawinajang menghadapi kendala medan dan kondisi cuaca. Kabut tebal membuat jarak pandang terbatas, sementara lokasi titik api berada di kawasan hutan dengan kontur lereng yang sulit dijangkau.

 

“Situasi tersebut turut menjadi pertimbangan keselamatan bagi personel yang diterjunkan melalui jalur darat,” ujarnya.

 

Berton mengimbau masyarakat di wilayah terdampak menggunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. “Masyarakat di seluruh Indonesia untuk tidak melakukan hal-hal yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Seperti membakar sampah dan memastikan puntung rokok telah padang ketika harus dibuang,” ujarnya.

 

Ia meminta masyarakat memastikan api atau pemanas yang digunakan saat berkemah telah padam sempurna sebelum meninggalkan lokasi. “Kami menghimbau agar masyarakat yang melakukan wisata alam seperti camping untuk selalu mengikuti aturan dari pengelola yang berlaku,” ucapnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang