Nasional

Basarnas Hentikan Metode Penyelaman Pencarian Korban KM Virgo Transport 8 karena Kondisi Kapal Semakin Membahayakan

NU Online  ·  Ahad, 4 Oktober 2026 | 06:00 WIB

Basarnas Hentikan Metode Penyelaman Pencarian Korban KM Virgo Transport 8 karena Kondisi Kapal Semakin Membahayakan

Konferensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-21 kecelakaan KM Virgo Transport 8 secara daring, Sabtu (3/10/2026) malam. (Basarnas)

Jakarta, NU Online

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menghentikan metode penyelaman dalam operasi pencarian korban kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang masih hilang hingga hari ke-21, Sabtu (3/10/2026). Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi menunjukkan kondisi kapal semakin tidak stabil, kondisi jasad korban mulai rusak, dan metode penyelaman dinilai tidak lagi efektif.

 

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa kondisi jasad korban yang berada di dalam kapal telah mengalami perubahan sejak awal operasi. Kondisi tersebut membuat proses evakuasi melalui penyelaman semakin berisiko.

 

“Pada beberapa hari pertama kondisi korban yang dievakuasi dari dalam kapal yang tenggelam masih memungkinkan untuk terapung, sehingga ketika berhasil dikeluarkan dari dalam kapal, korban dapat diterima di atas air laut dengan komunikasi yang dimiliki tim,” ujarnya dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-21 kecelakaan KM Virgo Transport 8 yang digelar secara daring, Sabtu (3/10/2026) malam.

 

Syafii mengatakan bahwa kondisi tersebut kini berubah seiring perubahan struktur kapal setiap hari sejak operasi SAR dimulai.

 

“Jika pada hari-hari sebelumnya korban dapat naik dengan sendirinya setelah dikeluarkan, kini korban dapat terurai ketika berhasil dikeluarkan dari dalam kapal. Karena itu, tidak efektif kalau operasi underwater ini kita teruskan dalam kondisi sekarang,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa persoalan keselamatan penyelam menjadi pertimbangan penting karena kondisi badan kapal semakin labil. Masih terdapat bagian kapal yang belum tersentuh penyelam, termasuk lambung kiri.

 

“Terdapat struktur kapal yang tidak stabil. Posisi kapal masih dapat mengalami perubahan trim dan kemiringan. Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap penyelam yang berada di dalam kapal,” tegasnya.

 

“Dikhawatirkan kapal masih terus mengalami penurunan yang lebih ekstrem jika penurunan kemiringan tersebut terjadi secara tiba-tiba saat penyelam berada di dalam kapal,” sambungnya.

 

Syafii mengatakan bahwa risiko tersebut semakin kompleks karena visibilitas di dalam kapal sangat rendah akibat sedimen dan debris. Kondisi itu tidak hanya menghambat pencarian, tetapi juga meningkatkan risiko disorientasi penyelam.

 

Selain itu, terdapat banyak benda tajam yang dapat menyebabkan luka maupun cedera, potensi bahaya kimia akibat tumpahan minyak dan kontaminasi lainnya, serta keterbatasan waktu kerja akibat kedalaman sekitar 27 meter.

 

Basarnas mencatat penyelam telah melakukan penetrasi sekitar 10 hingga 15 meter ke dalam kapal. Namun, akses lebih jauh terhambat material dan debris. Sejumlah jendela kapal juga telah dibuka, tetapi sejak hari ke-19 tidak lagi ditemukan korban melalui akses tersebut.

 

Selama operasi, penyelaman dilakukan rata-rata empat hingga lima sorti per hari. Setiap sorti melibatkan dua hingga tiga tim dengan lima penyelam per tim. Hingga hari ke-21, metode tersebut telah mengevakuasi 50 korban dalam kondisi meninggal dunia.

 

“Kemampuan maksimal penyelaman terhadap badan kapal telah dilakukan, dan tiga hari terakhir ini tidak menemukan korban lagi,” tutur Syafii.

 

Hingga Sabtu pukul 21.00 WIB, sebanyak 188 orang ditemukan, terdiri atas 108 orang selamat dan 80 orang meninggal dunia. Sementara itu, 55 korban masih dalam pencarian dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang