Nasional

Cerita Dai 3T di Wabloy Maluku Hadapi Kekurangan Air Bersih dan Fasilitas Sanitasi Terbatas

NU Online  ·  Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:00 WIB

Cerita Dai 3T di Wabloy Maluku Hadapi Kekurangan Air Bersih dan Fasilitas Sanitasi Terbatas

Seorang santri di Wabloy berwudu dengan keterbatasan air, Oktober 2026 (NU Online Institute)

Jakarta, NU Online

Setelah hampir sebulan tertunda akibat krisis air, Dai 3T NU Online Institute akhirnya dapat menetap di lokasi dakwah, tepatnya di Masjid Nurul Jadid, Desa Adat Mualaf Wabloy, Kecamatan Lolong Guba, Kabupaten Buru, Maluku, pada Sabtu (10/10/2026).

 

Keterbatasan air bersih menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi. Sumur bor yang selama ini menjadi sumber air bagi masjid dan masyarakat sekitar telah mengering akibat musim kemarau.

 

“Salah satu temuan kami di lokasi terdapat sumur bor yang menjadi sumber air bagi masjid dan masyarakat sekitar. Namun, sumur itu kini sudah kering kerontang,” kata Yafi Kholilur Rohman, dai Penggerak 3T kepada NU Online, Selasa (13/10/2026).

 

Menurut Yafi, Ustadz Fauzan, tuan rumah sekaligus pendamping dai di lokasi dakwah, menjelaskan bahwa sumur tersebut dibor saat musim hujan. Pengeboran tidak dilakukan terlalu dalam karena air sudah keluar. Namun, ketika musim kemarau tiba, sumber air itu tidak lagi mengalir.

 

“Memang, salah satu waktu terbaik untuk mengebor sumur adalah saat musim kemarau. Dengan begitu, pengeboran bisa dilakukan lebih dalam sehingga ketika kemarau, air masih tersedia,” tuturnya.

 

Semula, mereka berencana membuat sumur bor baru. Namun, keterbatasan anggaran membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan. Pilihan lainnya adalah membeli air sambil menunggu musim hujan tiba. Persoalannya, tidak ada penjual air di sekitar lokasi dakwah.

 

Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, mereka akhirnya memutuskan membeli air dari Kota Namlea. Sebanyak 6.000 liter air dibeli dengan harga Rp900.000.

 

“Insyaallah, air sebanyak ini cukup untuk sekitar 15 hari. Jadi, untuk satu bulan, kurang lebih kita membutuhkan dua tangki air,” tuturnya.

 

Setelah bernegosiasi dengan penjual, mereka menyepakati pembelian tersebut. Pada Sabtu pagi, 10 Oktober 2026, rombongan dai berangkat menuju lokasi dakwah bersama truk pengangkut air.

 

Setibanya di Masjid Nurul Jadid, air tersebut ditampung di kolam bekas pemeliharaan ikan nila. Pasalnya, masjid di Desa Adat Mualaf Wabloy itu belum memiliki tangki atau tandon air.

 

“Ketika truk air tiba, kami menampung air tersebut di kolam bekas ikan nila. Maklum, Masjid Nurul Jadid di Wabloy belum memiliki tangki atau tandon air,” jelasnya.

 

Sebelum digunakan untuk menampung air, kolam tersebut harus dibersihkan terlebih dahulu karena kondisinya masih kotor. Ummi, istri Ustadz Fauzan, turun tangan membersihkannya. Padahal, ia baru saja menjalani operasi.

 

Sementara itu, para dai juga masih berupaya mencari beras fidyah untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar. “Yang membuat saya terharu, beliau baru saja menjalani operasi. Namun, dalam kondisi seperti itu, beliau masih berusaha membantu agar kebutuhan air di lokasi dakwah bisa terpenuhi. Sungguh, ada perjuangan yang luar biasa di balik tersedianya air untuk kami,” ungkapnya.

 

Ketersediaan air ternyata belum menyelesaikan seluruh persoalan. Fasilitas dasar seperti toilet, tempat wudu, dan kamar mandi yang layak belum tersedia di lokasi dakwah. Untuk buang air besar, para dai harus menumpang di toilet milik warga sekitar dengan membawa air sendiri menggunakan ember.

 

“Jaraknya kurang lebih 100 meter dari lokasi kami. Kami merasa tidak enak jika harus menggunakan air milik warga, sebab mereka sendiri juga harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” bebernya.

 

Kondisi serupa mereka hadapi saat mandi. Kamar mandi darurat yang tersedia hanya berdinding karung dan ditopang tiang-tiang kayu. Sebagian tiangnya bahkan tampak lapuk. Lantainya berupa papan kayu yang disusun berjajar dengan celah-celah cukup lebar.

 

Di beberapa bagian, celah di antara papan itu bahkan mencapai selebar satu kepalan tangan. Setiap kali bergerak, mereka khawatir papan atau kayu penyangga tiba-tiba patah karena tidak kuat menahan beban tubuh.

 

Kekhawatiran bertambah karena kamar mandi tersebut berada di dekat semak-semak. Saat malam tiba, kemungkinan munculnya ular atau hewan lain dari bawah kamar mandi membuat mereka harus lebih waspada. Apalagi, mereka sempat menemukan bekas kulit ular yang mengelupas di sekitar lokasi tersebut.

 

Dengan biaya Rp900.000 untuk mendapatkan 6.000 liter air, setiap tetesnya menjadi sangat berharga. Air harus digunakan sehemat mungkin, mulai dari berwudu, mandi, mencuci pakaian, hingga memenuhi kebutuhan lainnya.

 

“Kami bahkan harus membatasi mandi menjadi sekali sehari. Tidak jarang, kami memilih tidak mandi karena khawatir persediaan air cepat habis. Apalagi, air tersebut juga digunakan oleh para jamaah, meskipun hanya untuk berwudu,” ungkapnya.

 

Dua hari menjalani kehidupan di lokasi dakwah dengan persediaan air terbatas cukup menguras pikiran. Yafi mengaku sempat mengeluh dalam hati karena belum pernah mengalami kondisi serupa ketika masih tinggal di Jember.

 

Namun, perasaan itu perlahan berubah ketika ia melihat anak-anak di Wabloy tetap bersemangat datang ke masjid. Di tengah keterbatasan yang mereka hadapi setiap hari, anak-anak itu tetap tersenyum dan menjalani aktivitas seperti biasa.

 

“Saat melihat mereka, saya merasa seperti sedang ditampar oleh keadaan. Bagaimana tidak? Saya yang baru dua hari merasakan sulitnya hidup dengan persediaan air terbatas sudah mulai mengeluh,” katanya.

 

Sementara itu, anak-anak di sana tetap bersemangat pergi ke masjid, seolah-olah keadaan yang mereka hadapi tidak menjadi alasan untuk berhenti.

 

Dari pengalaman tersebut, Yafi belajar bahwa semangat beribadah tidak selalu tumbuh dari keadaan yang nyaman. Justru, di tengah keterbatasan, ia menemukan keteguhan yang selama ini mungkin luput dari perhatiannya.

 

“Saya datang ke Wabloy dengan niat berdakwah, berharap bisa memberikan manfaat bagi masyarakat di sana. Namun, baru beberapa hari menetap, saya justru merasa banyak belajar dari mereka,” bebernya.

 

Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa perjalanan dakwah bukan semata-mata tentang menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat. Lebih dari itu, dakwah juga menjadi ruang untuk belajar, memahami kehidupan, dan merasakan langsung perjuangan masyarakat yang didampingi.

 

“Sebab, dakwah bukan semata-mata tentang apa yang bisa kita sampaikan, melainkan juga tentang apa yang bisa kita pelajari, rasakan, dan perjuangkan bersama,” tandasnya.

 

Catatan Redaksi: Penugasan Dai NU Online Institute di Pulau Buru, Maluku, merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama yang dikerjakan oleh NU Online Institute bersama JPZIS NU Online untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah ke pulau-pulau terluar Indonesia.

 
Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang