Nasional

Di Situbondo, Gus Kikin Tegaskan Semangat PBNU 2026-2031 Kembali ke Pesantren

NU Online  ·  Rabu, 28 Oktober 2026 | 06:30 WIB

Di Situbondo, Gus Kikin Tegaskan Semangat PBNU 2026-2031 Kembali ke Pesantren

Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin di PCNU Situbondo, Jawa Timur, Selasa (27/10/2026). (Foto: Dok PCNU Situbondo)

Situbondo, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan semangat kepengurusan PBNU masa khidmah 2026-2031 untuk kembali mendekatkan organisasi dengan pesantren. Hal itu disampaikannya saat menghadiri peluncuran Auditorium KHR As’ad Syamsul Arifin dan Meeting Room KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin yang diselenggarakan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Situbondo, Jawa Timur, Selasa (27/10/2026).


Dalam sambutannya, Gus Kikin menyampaikan rasa syukur karena dapat bersilaturahmi dengan keluarga besar NU di Situbondo. Ia menyebut kehadirannya bersama jajaran PBNU dalam kegiatan tersebut sebagai momen istimewa.


“Alhamdulillah, kami bisa bersilaturahmi. Kami berangkat dari Surabaya pukul 12.00 dan kemudian bisa mampir di acara ini. Ini bukan suatu kebetulan. Kami berempat, Katib Aam, Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, dan segenap jajaran PBNU, bisa hadir di sini, ini bukanlah suatu kebetulan,” ungkap Gus Kikin kepada NU Online, Selasa (27/10/2026).


Menurutnya, kehadiran jajaran PBNU juga menjadi bentuk penghormatan kepada para tokoh NU di Situbondo, khususnya KHR As’ad Syamsul Arifin dan KH Ahmad Sufyan Miftahul Arifin.


Ia mengapresiasi langkah PCNU Situbondo yang mengabadikan nama kedua tokoh tersebut sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan dan pengabdian mereka. Ia berharap, keberadaan fasilitas yang menggunakan nama para ulama itu menjadi amal jariyah serta membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat.


“Dengan adanya penyematan kedua tokoh di Situbondo ini, mudah-mudahan bermanfaat dan membawa barokah. Dengan demikian, kita masih bisa bersambung dengan para pendahulu kita, sebab kita masih bisa terhubung dengan beliau,” imbuhnya.


Dalam kesempatan tersebut, Gus Kikin juga menceritakan proses PBNU melengkapi struktur organisasi setelah Muktamar ke-35 NU. Proses itu dilanjutkan dengan kegiatan ta’aruf yang melibatkan sekitar 210 orang dari berbagai unsur, mulai dari generasi muda hingga para pengurus senior.


Setelah kegiatan ta’aruf, rangkaian proses kepengurusan dilanjutkan dengan pelantikan di Pondok Pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur. Ia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar, sederhana, dan khidmat.


“Semua berjalan lancar. Semuanya tidak mewah, tetapi khidmat. Kami lebih memilih kembali lagi ke Pondok Pesantren,” kata dia.


Menurut Gus Kikin, kesederhanaan dan kedekatan dengan lingkungan pesantren merupakan bagian penting dalam menjaga tradisi serta kesinambungan perjuangan NU.


Abad Kedua NU, Perkuat Semangat Ukhuwah

Lebih lanjut, Gus Kikin mengingatkan bahwa NU yang memasuki abad kedua pada 2026 membutuhkan bekal kuat untuk melanjutkan pengabdian organisasi. Salah satu hal penting ialah memperkuat nilai-nilai Khittah NU dan prinsip-prinsip organisasi yang menjadi pedoman perjalanan jam’iyah.


Menurutnya, nilai-nilai tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan antarkader, memperkuat persatuan, dan menjaga kebersamaan di tengah perbedaan.


Ia menekankan pentingnya tiga bentuk persaudaraan, yakni ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama umat Islam, ukhuwah wathaniyah atau persaudaraan sebangsa, serta ukhuwah basyariyah atau insaniyah, yakni persaudaraan sesama manusia.


“Kalau kita hanya mengedepankan ukhuwah Islamiyah tanpa memperhatikan yang lain, perbedaan bisa memanas dan berujung pada konflik. Ukhuwah wathaniyah diperlukan supaya kita bisa bersama-sama menjaga negara. Sementara itu, ukhuwah insaniyah merupakan sesuatu yang dibutuhkan seluruh manusia, tidak hanya di Indonesia,” tandasnya.


Ia juga mengingatkan pentingnya peran NU dalam menjaga persatuan bangsa, terutama di tengah situasi dunia yang diwarnai berbagai konflik. Menurutnya, NU perlu terus berkontribusi dalam kehidupan berbangsa melalui penguatan persatuan dan persaudaraan.


Gus Kikin mencontohkan kiprah NU pada masa lalu dalam membangun persatuan di antara organisasi-organisasi Islam yang memiliki perbedaan pandangan. Ia menyebut upaya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam mendirikan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada 1937 sebagai salah satu ikhtiar menyatukan berbagai kelompok Islam.


Menurutnya, pengalaman sejarah tersebut menunjukkan bahwa perbedaan pandangan tidak seharusnya menjadi penghalang bagi umat Islam untuk membangun kebersamaan demi kepentingan yang lebih luas.


"Saya berharap, semangat ukhuwah terus menjadi landasan bagi seluruh warga NU dalam menjalankan pengabdian kepada agama, bangsa, dan kemanusiaan," pungkasnya.


Ia berharap, semangat persaudaraan tersebut mengantarkan warga NU untuk senantiasa memperoleh ridha dan bimbingan Allah SWT, sekaligus menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) di Indonesia.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang