Guru Bahasa Arab Perlu Ubah Metode Pembelajaran
NU Online · Kamis, 27 Agustus 2015 | 17:01 WIB
Bogor, NU Online
Secara umum, sistem pengajaran Bahasa Arab di Indonesia belum bisa dikatakan efektif jika dibandingkan dengan negara lain, bahkan di Eropa yang notabene tidak mengenal huruf hijaiyah. “Orang barat malah bagus, hanya tiga bulan, jangan heran,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin di Bogor, Rabu (26/08) seperti dilansir oleh kemenag. go.id.
<>
Apa pasal, lanjut Dirjen, sistem pengajaran di Barat dilakukan dengan metodologi yang baik serta guru pengajar yang baik. Hal ini menurut Kamaruddin berbeda apa yang terjadi di Indonesia, banyak anak-anak masuk jenjang kuliah yang justru kemampuan Bahasa Arabnya tidak tambah. Padahal lanjutnya lagi, sejatinya seorang anak ciptaan Allah itu tidak pernah mengalami gagal.
“Artinya tidak ada anak bodoh, tapi hanya karena tidak menemukan guru pintar,” terangnya di hadapan para Guru Bahasa Arab.
Untuk itu, guru besar UIN Alauddin Makassar ini mengimbau kepada para guru agar meningkatkan kapasitas serta kemamapuannya dalam metodologi pengajaran serta sistematika.
“Pengayaanya juga harus bagus, metodologi dan materi pasti,” tukasnya. Hal ini, katanya lagi, juga bagian dari dukungan terhadap program yang sedang di bangun Direktorat Pendidika Madrasah untuk menghidupkan kembali Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) yang secara output diharapkan mempunyai kompetensi Bahasa Arab yang baik.
Dalam acara Penguatan Pemelajaran Bahasa Arab Pada Madrasah itu, Dirjen Pendis menceritakan bahwa kemampuan Bahasa Arab atau bahasa lainnya bisa dikuasai jika seseorang sudah melakukan pembelajaran sembilan ratus hingga seribu jam pelajaran.
“Nah seharusnya di kita ini sudah bisa Bahasa Arab, itu kalau metodologinya bagus dan diajarkan oleh guru yang bagus pula,” tukasnya.
Lalu, Dirjen juga menjelaskan bahwa pengalamanya di Jerman menemukan orang yang tidak bisa Bahasa Arab sama sekali namun hanya dalam setengah tahun bisa mahir berbahasa Arab.
“Padahal orang bule itu belajarnya dari alif ba ta,” ujar doktor lulusan Universitas Bonn ini. Bahkan menginjak semester lima sang bule tersebut sudah fasih dan menjadi penerjemah bahasa Arab. Red: Mukafi Niam
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
3
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
4
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
5
Iuran Lomba 17 Agustus: Gotong Royong atau Justru Bisa Jadi Judi? Ini Batas Hukumnya
6
Jelang Muktamar Ke-35 NU, PBNU Bakal Cek Kesiapan Lokasi dan Istighotsah Terbatas di Jombang pada 20 Agustus 2026
Terkini
Lihat Semua