Gus Hilmy: Lawan Rasa Takut dengan Ilmu, Bangun Mental Sehat dengan Tawadhu
NU Online · Jumat, 27 Februari 2026 | 11:00 WIB
Gus Hilmy saat mengampu Pengajian Ramadhan dengan mengulas Kitab Mabadi Khoiri Ummah yang ditayangkan Kanal Youtube Krapyak Official. (Foto: tangkapan layar)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hilmy Muhammad (Gus Hilmy) menegaskan bahwa kesehatan mental seorang Muslim dapat dibangun dengan dua fondasi utama, yakni melawan rasa takut dengan ilmu dan menumbuhkan sikap tawadhu atau rendah hati.
Menurut Gus Hilmy, rasa takut yang tidak pada tempatnya sering kali menjadi penghalang utama kemajuan seseorang. Ketakutan itu, katanya, kerap lahir dari ketidaktahuan terhadap hakikat suatu persoalan.
“Kenapa kita disuruh berfikir melawan ketakutan? Kerana antara sebab penakut itu adalah al-jahla atau tidak tahu, serta kurangnya pengetahuan tentang hakikat urusan tersebut,” ujar Gus Hilmy dalam Pengajian Ramadhan Kitab Mabadi’ Khoiri Ummah yang tayang di Kanal Youtube Krapyak Official pada Rabu (25/2/2026).
Ia menjelaskan, seseorang yang tidak memahami persoalan secara utuh akan cenderung diliputi kekhawatiran dan enggan mengambil peluang.
Sebagai contoh, ada orang yang takut melanjutkan kuliah ke luar negeri hanya karena tidak mengetahui informasi tentang beasiswa atau biaya hidup yang sebenarnya dapat ditanggung melalui skema pendanaan tertentu.
Karena itu, Gus Hilmy menekankan pentingnya keberanian yang terus dilatih. Salah satu caranya adalah melalui trial and error atau percobaan berulang terhadap hal-hal yang ditakuti hingga rasa takut tersebut berkurang dan akhirnya hilang.
“Melawan ketakutan dengan cara melakukannya berkali-kali (watajribati) hingga menjadi kebiasaan dan tidak menakutkan lagi,” katanya.
Selain faktor ketidaktahuan, ia menyinggung aspek moral sebagai penopang mental. Menurutnya, kehidupan yang bersih dari perbuatan maksiat menjadi perisai penting agar seseorang tidak mudah diliputi rasa takut.
“Cara supaya kita tidak menjadi penakut adalah hidup kita harus bersih dari pada hal-hal yang kotor dan perbuatan tercela. Orang yang melakukan kesalahan atau rusuh selalu akan hidup dalam ketakutan kerana mereka ada beban masa lalu,” ucapnya.
Lebih lanjut, Gus Hilmy menjelaskan pentingnya sikap tawadhu dalam membangun kepribadian yang sehat. Ia menegaskan bahwa tawadhu bukan berarti rendah diri atau minder, melainkan posisi tengah antara kesombongan (al-kibr) dan kerendahan yang hina (al-wadhi'ah).
“Tawadhu yaitu kerelaan seseorang untuk menempati posisi yang lebih rendah dari yang seharusnya ia dapatkan demi menghormati orang lain,” ucapnya.
Menurutnya, sikap tawadhu bukanlah bentuk penghinaan terhadap diri sendiri, melainkan kesediaan untuk tetap menghormati orang lain meskipun memiliki kedudukan yang tinggi.
“Siapa yang rendah hati kerana Allah, maka Allah akan mengangkat darjatnya. Tawadhu itu lahir dari pada pengetahuan kita tentang keagungan Allah dan kesedaran tentang kekurangan diri sendiri," jelas Gus Hilmy.
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
Rais Syuriah PBNU Ingatkan Pengurus PWNU Aceh: Jangan setelah Dilantik Malah Jadi Urusan
Terkini
Lihat Semua