Nasional

Gus Ipang Wahid, Waketum PBNU yang Bergerak di Bidang Kreatif dan Digital, Dapat Amanat Mengadaptasi Qanun Asasi

NU Online  ·  Rabu, 7 Oktober 2026 | 14:30 WIB

Gus Ipang Wahid, Waketum PBNU yang Bergerak di Bidang Kreatif dan Digital, Dapat Amanat Mengadaptasi Qanun Asasi

Wakil Ketua Umum PBNU H Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang Wahid di kantor Redaksi NU Online, Rabu (30/9/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

H Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau akrab disapa Gus Ipang Wahid dipercaya menjadi salah satu Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031.


Gus Ipang mengatakan, Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) memintanya membantu NU beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital, memperbaiki komunikasi publik, dan menerjemahkan Qanun Asasi agar relevan bagi generasi muda.


Ia dikenal sebagai praktisi komunikasi, branding, dan periklanan. Saat ini, Gus Ipang juga menjabat sebagai komisaris PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel).


Gus Ipang mengaku belum pernah menjadi pengurus PBNU sebelumnya. Namun, ia mengatakan telah lama berinteraksi dengan NU karena berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama.


“Kalau di kepengurusan PBNU belum. Namun untuk interaksi dengan NU sudah berkali-kali, hanya saja tidak sebagai pengurus,” kata Gus Ipang kepada NU Online, Rabu (7/10/2026).


Ia mengatakan telah diajak masuk dalam kepengurusan PBNU sejak periode sebelumnya. Saat itu, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menawarinya menjadi salah satu ketua bidang ekonomi. Namun, tawaran tersebut tidak terwujud.


Untuk kepengurusan 2026-2031, Gus Ipang menyebut ajakan datang dari sejumlah tokoh, di antaranya Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU Gus Kikin, KH Anwar Iskandar, Sekjen PBNU H Gudfan Arif, dan Gus Ipul.


“Banyak yang mengajak, jadi saya sampaikan bahwa saya akan all out insyaAllah,” ujarnya.


Tiga Amanat Gus Kikin

Gus Ipang menjelaskan terdapat sejumlah hal yang dititipkan Gus Kikin kepadanya. Pertama, kesiapan NU menghadapi perkembangan teknologi.


“Gus Kikin melihat kebutuhan zaman sudah semakin kompleks, sehingga NU harus adaptif dengan perubahan zaman, termasuk pemahaman digital dan optimalisasi implementasi teknologi,” katanya.


Menurut Gus Ipang, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berlangsung sangat cepat sehingga NU perlu merespons perkembangan tersebut.


“Perkembangan AI saat ini sangat luar biasa agresif jika kita tidak masuk ke ranah tersebut, kita akan tertinggal,” ujarnya.


Kedua, Gus Kikin menitipkan persoalan komunikasi publik. Menurut Gus Ipang, komunikasi menjadi penting di tengah dinamika internal NU.


“Dalam satu tahun terakhir, tingkat konflik internal NU relatif cukup tinggi, sehingga perlu dicarikan jalan keluar melalui komunikasi publik yang lebih baik,” kata Gus Ipang.


Ia menyebut latar belakangnya di bidang digital, telekomunikasi, dan komunikasi menjadi salah satu alasan dirinya dinilai tepat mengisi posisi tersebut.


Ketiga, Gus Ipang mendapat amanat untuk menerjemahkan Qanun Asasi agar lebih mudah dipahami generasi muda.


“Menurut saya, Qanun Asasi ini harus diturunkan kepada masyarakat dengan bahasa yang mudah dipahami agar relevan (relate) bagi generasi baru seperti Gen Z dan Gen Alpha,” ucapnya.


Ia mengakui upaya tersebut tidak mudah karena berkaitan dengan perubahan kebiasaan masyarakat Indonesia. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu fokus utama Gus Kikin dan dirinya.


Keluarga Wahid dan Pendidikan Seni

Gus Ipang lahir di Jakarta pada 25 Februari 1969. Ia merupakan putra KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Nyai Hj Farida Salahuddin Wahid, cucu KH Abdul Wahid Hasyim, sekaligus cicit Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari.


Latar belakang pendidikannya berada di bidang seni dan komunikasi. Ia menempuh pendidikan desain komunikasi visual di Institut Kesenian Jakarta pada 1987, kemudian mengambil program Music and Video Business Management di The Art Institute of Seattle, Amerika Serikat, pada 1991. Gelar Magister Management diperolehnya dari Universitas Gajayana Malang pada 2022.


Menurut Gus Ipang, pilihan pendidikan tersebut tidak bertentangan dengan tradisi keluarga Wahid yang terbuka terhadap berbagai bidang keilmuan.


“Kalau orang tidak mengenal keluarga Wahid, pasti akan berpikir demikian. Namun keluarga Wahid sebenarnya sangat open-minded,” katanya.


Ia mencontohkan KH Abdul Wahid Hasyim yang pada masanya tampil mengenakan jas dan dasi. Setelah Kiai Wahid wafat, istrinya, Nyai Solichah, memilih tetap tinggal di Jakarta dan menyekolahkan anak-anaknya di luar pesantren.


Gus Sholah menempuh pendidikan arsitektur, sedangkan Gus Umar Wahid mengambil bidang kedokteran. Dari Nyai Solichah pula, Gus Ipang mendapat izin menekuni seni rupa, desain, dan komunikasi visual.


Dari Sutradara Iklan ke Konsultan Komunikasi

Gus Ipang memulai karier sebagai sutradara iklan. Pada 1996-2018, ia menyutradarai lebih dari seribu iklan yang menurutnya meraih puluhan penghargaan di dalam dan luar negeri.


Ia kemudian menjadi konsultan komunikasi dan branding bagi sejumlah perusahaan dan badan usaha milik negara. Ia juga memiliki rumah kreatif reKreasi.


Pada 2023, Gus Ipang mendirikan IPWS Perception Engineering & Data Analytics. Pada tahun yang sama, ia menjadi pembawa acara podcast Info A1 di kumparan.


Pengalaman di Pemerintahan, Pesantren, dan Dunia Usaha

Di pemerintahan, Gus Ipang pernah menjadi Ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif di Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) pada 2016-2019. Pada 2018-2019, ia menjadi Senior Advisor Gojek.


Pada 2019, ia menjadi Penasihat Khusus Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Ketua Tim Quick Win lima destinasi super prioritas pariwisata.


Sejak 2022, ia tercatat sebagai Tim Ahli Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Pada 2023-2024, ia menjadi Penasihat Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga.


Di lingkungan pesantren dan keumatan, Gus Ipang menjadi Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng sekaligus pendiri Tebuireng Initiatives pada 2020. Ia juga menjadi Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah sejak 2021 dan Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sejak 2022.


Di dunia usaha, ia pernah menjadi Komisaris Shipper Indonesia pada 2021-2025. Ia kemudian menjadi Komisaris PT Angkasa Pura Indonesia sejak 2024, Komisaris Telkomsel sejak 2025, serta Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia sejak 2025.


Latar belakang di bidang kreatif, teknologi, dan komunikasi tersebut kini dibawa Gus Ipang ke PBNU untuk menjalankan amanat yang diberikan kepadanya selama masa khidmah 2026-2031.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang