Gus Mus Jelaskan Makna Kasyaf dan Pentingnya Penyucian Hati
NU Online · Selasa, 24 Februari 2026 | 06:00 WIB
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri. (Foto: tangkapan layar kanal Youtube NU Online)
Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menjelaskan pentingnya penyucian hati dalam perjalanan spiritual seorang hamba menuju Allah. Dalam Pengajian Ramadhan yang membahas Kitab Al-Hikam karya Imam Ibnu Athaillah, ia menerangkan konsep kasyaf, yakni tersingkapnya hijab sehingga seseorang mampu melihat hakikat yang tidak kasat mata.
Menurut kiai yang akrab disapa Gus Mus itu, kasyaf hanya mungkin terjadi apabila hati benar-benar bersih.
“Sedangkan kita ini membersihkan sedikit, lalu mengotori lagi; dilap sedikit, ternoda lagi. Maka tidak kunjung bersih, dan hati tidak bisa bercahaya,” ujarnya sebagaimana tayangan YouTube NU Online diakses Senin (23/2/206).
Ia menegaskan, hati tidak dapat bersinar karena dipenuhi bayangan-bayangan duniawi. Harta, ternak, kendaraan, popularitas artis, preman, hingga politisi, kata dia, kerap memenuhi relung batin manusia. Padahal tujuan hidup manusia sejatinya adalah menuju Allah.
“Bagaimana bisa berjalan menuju-Nya kalau kaki masih terbelenggu? Terbelenggu oleh keinginan-keinginan yang tiada habisnya,” tutur Gus Mus.
Keinginan yang terus bertambah membuat seseorang sibuk dan tak pernah benar-benar memulai perjalanan spiritualnya.
Ia mengibaratkan, jika keinginan-keinginan itu dibersihkan, langkah akan terasa ringan. Namun selama hati masih terikat syahwat, mustahil seseorang dapat masuk ke hadirat Allah.
“Allah Mahasuci, baik, indah, dan tidak menerima kecuali yang baik dan suci. Maka dosa-dosa harus disucikan dengan tobat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Mus menjelaskan bahwa orang yang ingin mengetahui rahasia langit dan bumi, rahasia malakut, tidak akan mampu mencapainya jika hatinya masih dipenuhi dosa. Hati, katanya, harus sebening kaca yang jernih, bukan hanya memantulkan kehidupan dunia, tetapi juga mampu menyingkap rahasia kerajaan langit dan bumi.
Karena itu, dalam tasawuf, langkah pertama yang harus ditempuh adalah bersih-bersih diri melalui tobat dari segala dosa.
Ia juga menguraikan pandangan tasawuf tentang hakikat alam semesta. Pada dasarnya, alam ini gelap. Hal yang membuatnya tampak adalah cahaya Allah, al-Haqq. Gus Mus mengibaratkan seperti keadaan ketika lampu padam, semuanya gelap. Begitu cahaya menyala, gunung, laut, tumbuhan, dan seluruh isi bumi menjadi terlihat.
“Demikian pula alam ini. Asalnya gelap, tetapi disinari cahaya Allah sehingga tampak,” jelasnya.
Menurutnya, siapa memandang alam semesta tetapi tidak menyaksikan Allah di dalamnya, di sisinya, sebelumnya, dan sesudahnya, maka ia terhalang dari cahaya. Ia tidak mampu menangkap cahaya pengetahuan karena tertutup oleh “awan-awan” bekas-bekas duniawi. Akibatnya, hakikat menjadi tidak terlihat karena tertutup bayangan-bayangan.
Dalam perspektif tasawuf, dunia hanyalah kegelapan yang disinari cahaya Allah. Jika seseorang menikmati keindahan alam tanpa menyadari kehadiran Sang Mahaindah yang menciptakannya, berarti ada yang tidak beres dalam penerimaan cahayanya.
Gus Mus mengibaratkan kondisi itu seperti cermin yang tertutup kain. Ia tidak dapat memantulkan apa pun. Matahari pengetahuan pun tertutup awan tebal sehingga kebenaran tak terlihat.
Karena itu, para sufi dan wali, kata dia, tidak lagi menjadikan dunia sebagai tujuan. Yang mereka pandang adalah Penciptanya, Allah Taala. Dunia hanyalah bayangan, sementara yang hakiki adalah Allah.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua