Gus Yahya Ungkap Keunikan Tradisi Ulama Nusantara yang Tak Ditemui di Negara Lain
NU Online · Senin, 26 Februari 2024 | 15:00 WIB
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengungkap keunikan ulama Nusantara. Ia mengatakan bahwa tradisi yang dilakukan ulama Nusantara memiliki ciri khas yang tak ditemui pada tradisi keulamaan di tempat atau negara lain.
Gus Yahya menjelaskan bahwa para ulama Nusantara tidak hanya tekun dalam berkhidmah kepada ilmu, tetapi juga menjalankan fungsi ri'ayatul ummah atau membimbing umat.
Menurutnya, para ulama di Nusantara telah terbiasa terlibat langsung dalam mengelola masyarakat dan mengupayakan pemenuhan berbagai kebutuhan hidup mereka.
“Para kiai kita memiliki tradisi yang unik sejak berabad-abad yang lalu, yang berbeda dari tradisi keulamaan di tempat lain. Ada satu wadzifah dari para ulama kita yang sudah dibiasakan menjadi wadzifah, menjadi adat, tradisi, selama berabad-abad yang tidak kita temui di tempat (negara) lain," kata Gus Yahya pada Malam Puncak Haflatul Imtihan Ke-92 Putra, Pesantren Zainul Hasan Genggong, Probolinggo, Jawa Timur, Sabtu (24/2/2024).
"Tidak kita temui di Hijaz. Tidak kita temui di antara para ulama Mesir dan Afrika Utara. Para ulama Persia, tidak kita temui, hanya kita temui dilakukan oleh para ulama di Nusantara ini. Para ulama kita ini, selain tekun dalam wadzifah berkhidmah kepada ilmu, para ulama juga melakukan fungsi ri’ayatul ummah,” imbuh Gus Yahya.
Baca Juga
Huruf Pegon, Pemersatu Ulama Nusantara
Ia menambahkan bahwa di wilayah-wilayah Islam lainnya, tanggung jawab ri'ayah umumnya dipegang oleh para sultan atau penguasa. Namun di Nusantara, tanggung jawab tersebut justru langsung dipegang oleh para ulama. Karena itu, wajar jika masyarakat dengan sangat militan dan setia mengikuti tuntunan dari para ulama.
“Karena para ulama tidak hanya menceramahi atau mengomel saja, tetapi juga terlibat langsung dalam mengupayakan pemenuhan segala macam kebutuhan hidup masyarakat," ujar Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah itu.
Gus Yahya juga menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan jamiyah yang diprakarsai oleh para ulama. Karena itu, menjadi penting untuk dipahami bahwa keberadaan Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat adalah untuk syariah dan agama.
Ia menekankan bahwa semua yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama di tengah-tengah masyarakat dan segala keputusan-keputusan yang dihasilkan didasarkan pada pertimbangan syariah.
“Semua keputusan-keputusan, semua langkah-langkah yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama harus didasarkan pada pertimbangan syariah. Sepanjang sejarah Nahdlatul Ulama, dari waktu ke waktu, itulah yang dilakukan oleh para ulama kita, para pemimpin Nahdlatul Ulama, karena persis dasarnya itu,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua