Nasional

Hari Ke-15 Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8 Tenggelam: 2 Jenazah Ditemukan, 69 Masih Hilang

NU Online  ·  Senin, 28 September 2026 | 08:30 WIB

Hari Ke-15 Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8 Tenggelam: 2 Jenazah Ditemukan,  69 Masih Hilang

Proses evakuasi jenazah untuk diperiksa identitasnya ke Rumah Sakit Bayangkara Banjarmasin pada Ahad (27/9/2026). (Basarnas)

Jakarta, NU Online

Operasi pencarian korban kecelakaan kapal KMP Virgo Transport 8 memasuki hari ke-15. Tim SAR gabungan kembali menemukan dua korban meninggal dunia di Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah, Ahad (27/9/2026).

 

Dengan ditemukannya dua jenazah tersebut, sebanyak 174 korban telah dievakuasi dari total 243 orang dalam manifes KMP Virgo Transport 8. Dari jumlah tersebut, 66 korban dikonfirmasi meninggal dunia, sedangkan 69 orang masih dinyatakan hilang.

 

Kepala Kantor SAR Banjarmasin, Kalimantan Selatan, I Putu Sudayana, mengatakan setelah kembali ditemukan jenazah di sekitar Kalimantan Tengah, Tim SAR dari Kantor SAR Palangka Raya akan melakukan penyisiran di sepanjang pesisir.

 

“Kita juga laksanakan pencarian di daerah Palangka Raya, Kantor SAR Palangka Raya melaksanakan pencarian di pesisir, sepanjang pesisir ya,” ujarnya dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari ke-15 kecelakaan KMP Virgo Transport 8 yang digelar secara daring, Ahad (27/9/2026) malam.

 

Penyelaman Belum Temukan Korban Baru

I Putu mengatakan operasi penyelaman di lokasi kecelakaan KMP Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, belum menemukan korban baru.

 

Menurutnya, tim penyelam menghadapi sejumlah kendala saat melakukan pencarian di dalam bangkai kapal. Salah satunya adalah perubahan kemiringan kapal yang dapat mengancam keselamatan penyelam.

 

“Kendala yang pertama yaitu masih terjadi perubahan trim atau derajat kemiringan pada kapal. Jadi, kapal ini terus berubah kemiringannya ya,” katanya.

 

“Apabila sewaktu-waktu stabilitasnya itu tiba-tiba berubah total, nah ini ya pasti keselamatan penyelam itu terancam ya,” lanjutnya.

 

Kendala lain muncul ketika penyelam melakukan penetrasi hingga 15 meter ke dalam kapal. Struktur kapal disebut tidak stabil sehingga penyelam tidak berani melanjutkan pencarian.

 

“Terdapat struktur yang tidak stabil dalam kapal apabila melakukan penetrasi sejauh 15 meter ke dalam. Namun, begitu masuk ke dalam itu ada perubahan stabilitas di dalam kapal ya. Nah, ini sehingga tim penyelam itu tidak berani masuk lagi ke dalam kapal,” ujarnya.

 

I Putu juga menyampaikan bahwa jarak pandang yang sangat rendah akibat lumpur membatasi ruang gerak penyelam.

 

“Jarak pandangnya sangat-sangat rendah, dikarenakan lumpur-lumpur itu sudah mulai masuk, jadi itu membatasi ruang gerak daripada tim penyelam,” katanya.

 

Selain itu, terdapat benda-benda tajam di dalam kapal yang berpotensi melukai penyelam. Tim juga menghadapi risiko bahaya kimia akibat tumpahan minyak dan kontaminasi lainnya.

 

“Di sana banyak barang-barang yang tajam dan berisiko untuk bisa melukai,” ujarnya.

 

“Bahaya kimikal dari tumpahan minyak atau kontaminasi lainnya bagi penyelam. Di sana ada kendaraan, ini BBM-nya sudah mulai ada yang keluar,” sambungnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang