Harlah Ke-72, RMI PBNU Siapkan Digdaya Pesantren dan Program Pencegahan Kekerasan
NU Online · Kamis, 21 Mei 2026 | 06:30 WIB
Suci Amaliyah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) menggelar peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-72 dan doa bersama secara daring pada Rabu (20/5/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf serta jajaran RMI NU dari tingkat wilayah hingga cabang.
Ketua RMI PBNU KH Hodri Arief mengatakan momentum harlah menjadi refleksi bagi RMI PBNU untuk terus memperkuat pengabdian kepada pesantren.
“Usia 72 tahun ini bukan merupakan usia yang singkat. Sudah banyak yang dilakukan RMI, baik di level wilayah maupun cabang. Namun, masih banyak lagi yang harus kita perbaiki untuk kemajuan pesantren dan bangsa kita,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi pesantren saat ini tidak ringan. Karena itu, RMI PBNU berharap para kiai di semua tingkatan, baik cabang maupun pengasuh pesantren, dapat terus meningkatkan semangat pengabdian.
“Pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan terbaik untuk umat Islam dan bangsa kita, Indonesia,” lanjutnya.
Sementara itu, Sekretaris RMI PBNU Ulun Nuha menyampaikan sejumlah program yang tengah dikerjakan RMI PBNU. Salah satunya ialah program Digdaya Pesantren yang akan diluncurkan secara nasional dan masif.
“Digdaya Pesantren adalah program digitalisasi data dan pelayanan pesantren. Kami akan melakukan bimbingan teknis per provinsi. Saat ini sudah dilakukan pilot project di RMI PWNU Yogyakarta dan Jawa Tengah,” ujarnya.
Selain itu, RMI PBNU juga menjalankan program pencegahan dan penanganan kekerasan di pesantren.
“Di Pesantren Daarul Mughni Bogor kami mengadakan training of trainers (ToT). Mereka disiapkan menjadi fasilitator untuk mengadakan pelatihan di pesantren dan lingkungan sekitarnya,” katanya.
Ia menyebut peserta pelatihan berasal dari berbagai pesantren, di antaranya Pesantren Krapyak dan Darul Ulum Jombang, yang nantinya diharapkan dapat melaksanakan pelatihan serupa di daerah masing-masing.
Program lainnya ialah inkubasi beasiswa santri ke Maroko yang dilaksanakan di Yogyakarta.
“Ini hasil dari seleksi panjang. Terpilih 27 santri dari seluruh Indonesia, termasuk santri dari Aceh. Semua biaya ditanggung, termasuk biaya hidup,” jelasnya.
Selain itu, terdapat program AGUS berupa pembagian Al-Qur’an dan pemenuhan gizi bagi santri yang dapat diakses melalui Digdaya Pesantren, serta program konsultasi dan pendampingan pembangunan infrastruktur pesantren.
“Insyaallah nanti bulan Juli akan diluncurkan. Saat ini sudah ada 12 pesantren yang didampingi dan sukses di RMI PWNU Yogyakarta,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
Prabowo Sebut Ada Kelompok yang Ingin Indonesia Terpecah
Terkini
Lihat Semua