Nasional

Karhutla di 7 Provinsi: 12.517.488 Warga Terdampak, 4 di Antaranya Meninggal Dunia

NU Online  ·  Jumat, 11 September 2026 | 11:00 WIB

Karhutla di 7 Provinsi: 12.517.488 Warga Terdampak, 4 di Antaranya Meninggal Dunia

Juru Bicara Kemenkes Widyawati dalam konferensi secara daring pada Kamis (10/9/2026). (BNPB)

Jakarta, NU Online

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan persoalan ekologis, tetapi juga menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Widyawati mengatakan berdasarkan data hingga Rabu (9/9/2026), masyarakat terdampak karhutla tersebar di Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatra Selatan dengan total 12.517.488 warga.

 

“Di Kalimantan Selatan penduduk yang terdampak sebanyak 2.250.522 orang dengan rincian luka berat atau rawat inap ada dua orang dan luka ringan atau rawat jalan ada tiga orang, di Kota Banjarbaru yang mengalami luka berat dan sesak nafas,” katanya dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Kamis (10/9/2026).

 

Di Kalimantan Tengah, penduduk yang terdampak mencapai 2.843.012 orang. Sebanyak 313 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap, sementara tiga orang meninggal dunia.

 

“Yang rawat inap disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), korban meninggal dunia berada di Kotawaringin Barat,” ujar Widyawati.

 

Sementara, di Kalimantan Barat, sebanyak 3.909.846 penduduk terdampak. Dari jumlah tersebut, sembilan orang menjalani rawat inap, 19 orang menjalani rawat jalan, satu orang meninggal dunia, dan 45 orang terpaksa mengungsi.

 

Di Kalimantan Timur tercatat 436 penduduk terdampak, Jambi sebanyak 1.890.880 orang, Riau 1.224.239 orang, dan Sumatra Selatan 398.523 orang.

 

Widyawati mengatakan bahwa karhutla tidak lagi dapat dipandang semata sebagai persoalan kebakaran lahan. Ketika asap memasuki ruang hidup masyarakat, risiko gangguan kesehatan ikut meluas. “Kita tahu bahwa pencemaran udara sangat mengganggu,” ucapnya.

 

Ia menjabarkan data indeks standar pencemaran udara (ISPU) di sejumlah wilayah terdampak karhutla bahkan menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Enam kabupaten/kota masuk kategori berbahaya, yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kubu Raya, Kapuas, Kota Pontianak Tenggara, Kabupaten Katingan, Kabupaten Gunung Mas, dan Kabupaten Murung Raya.

 

“Sementara lima kabupaten/kota masuk kategori sangat tidak sehat yaitu Kabupaten Sintang Baning Kota, Kabupaten Sekadau Sekadau Hilir, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Murao Kambi, dan Kabupaten Tebo,” tuturnya.

 

Dampak kesehatan juga terlihat dari kasus ISPA. Hingga Rabu (9/9/2026), kasus ISPA secara kumulatif di wilayah terdampak mencapai 113.336 kasus. Bahkan, dalam satu hari pada Rabu (9/9/2026) tercatat 4.080 kasus.

 

“Kasus ISPA terbagi dalam usia nol sampai lima tahun ada 26.545 kasus, dan juga lebih dari lima tahun ada 86.791 kasus. Jumlah wilayah terdampak 63 kabupaten/kota,” ungkap Widyawati.

 

Ia menyampaikan bahwa Kemenkes tengah melakukan pemantauan terhadap penyakit yang berkaitan dengan karhutla, seperti ISPA, pneumonia, asma, serta iritasi mata dan kulit. Pemerintah juga melakukan surveillance kualitas udara dan menerbitkan surat kewaspadaan karhutla bagi dinas kesehatan.

 

“Untuk penanganan dan pemantauannya kita sudah siapkan pos pelayanan kesehatan di 1691 Puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, 87 lab kesemas untuk pengujian kualitas udara, menyiagakan Public Safety Center 119 dan tenaga cadangan kesehatan di kabupaten/kota,” ujar Widyawati.

 

Widyawati menghimbau masyarakat tidak mengabaikan risiko paparan asap terutama di wilayah terdampak. “Jangan panik namun waspada, kenakan masker pada saat berada di luar ruangan, pantau indeks kualitas udara, perbanyak minum air putih, kunjungi fasian kes bila muncul sesak di masyarakat," ungkapnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang